Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2010

TEMBANG ILIR-ILIR

Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Ilir ilir lir ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo,
tak sengguh penganten anyar
Cah angon, cah angon,
penekna blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu peneken
kanggo masuh dodotira,
Dodotira kumitir bedhah pinggire
dondomana, jlumatana,
kanggo seba mengko sore
Mumpung gedhe rembulane
Mumpung jembar kalangane
Ha suraka … surak … hore…

Konon kabarnya, “Tembang Ilir-ilir” diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalidjaga, salah seorang wali sanga terkemuka di tanah Jawa, semasa abad XIV—XV Masehi. Tembang ini digunakan sebagai sarana berdakwah bagi Sunan Kalidjaga dalam rangka menyebarkan agama Islam di pulau Jawa pada masa itu. Mengingat masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa pada umumnya adalah masyarakat agraris, petani, dan masih dipengaruhi kuat oleh budaya lama (seperti Animisme, Dinamisme, Hindhu, Budha, dan kepercayaan lainya), maka tembang dolanan anak-anak itu dibuatlah melalui simbol-simbol masyarakat agraris di pedalaman Pulau Jawa. Makna dari tembang Ilir-ilir terseb…

Alquran dan Hermeneutika Inklusif

Ridwan Munawwar*
http://www.jawapos.co.id/

NUZULUL Quran adalah hari di mana kalam Tuhan turun ke bumi melalui Nabi Muhammad yang berperan sebagai mediator. Sebuah proses yang ajaib; firman Tuhan yang gaib dan transenden menjelma ke dalam bentuk imanen, yakni teks yang berisi kalimat sakral dan memiliki nilai sastrawi yang amat tinggi.

Alquran ada untuk manusia. Memang ia adalah sebentuk teks yang menempati posisi tertinggi dalam hierarki teks-teks pedoman umat Islam. Tapi, posisinya yang tinggi tidaklah bersifat eksklusif, melainkan inklusif. Alquran sangat terbuka untuk berbagai corak pemaknaan dan penafsiran.

Selama ini sudah banyak muncul kegelisahan yang menyatakan bahwa akar problema terbesar dari kemunduran peradaban Islam berkaitan dengan bagaimana umat Islam berhubungan dengan kitab sucinya itu. Alquran sering diposisikan secara eksklusif, tidak sembarang tangan dan pikiran boleh menyentuh dan menafsirinya.

Meminjam istilah Zuhairi Misrawi (2003), umat Islam cenderung berhadapan d…

ANGKATAN 70-AN: KEMBALI KE TRADISI

(Konsep Estetik Abdul Hadi WM tentang Angkatan 70-an)*
Maman S Mahayana*
http://mahayana-mahadewa.com/

Dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, kita mengenal adanya sejumlah penyebutan tentang penggolongan, periodesasi atau angkatan. Penyebutan itu tentu saja tidak serta-merta muncul begitu saja. Selalu ada usaha untuk merumuskan semangat yang melatarbelakanginya atau gerakan estetik yang mendasari karya-karya yang muncul sejalan dengan semangat zamannya. Dari sejumlah penamaan tentang angkatan atau periodesasi itu,1 menurut hemat saya, hanya ada tiga angkatan yang melandasi penamaannya atas dasar semangat atau gerakan estetik, yaitu Pujangga Baru,2 Angkatan 45,3 dan sastrawan yang muncul pasca-Angkatan 66, 4 yaitu Angkatan 70-an.5

Sastrawan yang muncul pasca-Angkatan 66, seperti menghadapi kegelisahan yang sama tentang situasi kesusastraan—dan kebudayaan—pasca Tragedi 1965, yaitu adanya semangat kebebasan berekspresi. Semangat kebebasan berekspresi itu dimungkinkan oleh beberapa …

Perjalanan Sastra tanpa Jejak Bahasa

Edy A Effendi
http://www.infoanda.com/Republika

Perjalanan sastra Indonesia dalam kurun waktu 2007 tidak mampu meninggalkan jejak kebahasaan yang cukup berarti bagi pertumbuhan sastra Indonesia. Jejak kebahasaan ini menjadi penting karena fakta-fakta sejarah yang lurus harus dibangun atas keselarasan antara bahasa dan pikiran. Seperti kata Roger Trigg, berpikir tidak mungkin dipisahkan dari bahasa, dan adanya perbedaan bahasa akan melahirkan perbedaan produk pemikiran.

Untuk membangun keselarasan antara bahasa dan produk pemikiran, para sastrawan harus bergumul secara intens dengan dunia bahasa dan tidak serta merta melahirkan karya tanpa mau menjenguk ceruk-ceruk kebahasaan yang paling dalam. Hanya beberapa buku sastra yang bisa dijenguk keseriusannya mencari bahasa sebagai jangkar kreativitasnya. Sebutlah kumpulan cerita pendek Gus tf Sakai, Perantau (GPU, 2007), dan antologi puisi Zen Hae, Paus Merah Jambu (Akar, 2007).

Pergumulan secara intens dengan hutan rimba bahasa itulah, yang se…

Puisi Amir Hamzah Bukan Sastra Sufi

Kurniawan
http://www.tempointeraktif.com/

Meskipun selama ini puisi-puisi sastrawan Pujangga Baru, Amir Hamzah, sering dimasukkan sebagai karya sufistik, pengamat sastra Arief Bagus Prasetyo cenderung menolaknya.

“Amir Hamzah bahkan dimasukkan dalam antologi sastra sufi yang disusun oleh Abdul Hadi W.M.. Tapi, menurut saya, Amir Hamzah menjadi satu-satunya pengarang yang bukan sufi dalam antologi itu,” kata Arif dalam diskusi “Mendaras Amir Hamzah” di Freedom Institute, Jakarta, Kamis (24/6) malam. Acara yang dipandu Nirwan Dewanto itu juga menghadirkan Sapardi Djoko Damono sebagai pembicara.

Buku Sastra Sufi: Sebuah Atologi karya Abdul Hadi itu memuat karya-karya penyair mistikus dan filsuf Islam terkemuka, seperti Jalaludin Rumi, Al-Hallaj, Rabiah Al-Adawiyah, Hamzah Fansuri, Yasadipura I, Yasadipura II dan Raja Ali Haji.

Arif juga mengutip pandangan Goenawan Mohamad yang menekankan keresahan Amir Hamzah dalam hubungannya dengan Tuhan sebagai masalah pokok dalam karya Amir. A Teeuw, kata…

Laut Dalam Puisi Isbedy Stiawan ZS

Peresensi Buku: M. Arman AZ
Judul buku: Perahu di Atas Sajadah (kumpulan puisi islami)
Pengarang: Isbedy Stiawan ZS
Penerbit: Bukupop, Jakarta
Cetakan: Oktober 2006
Halaman: xii + 84 hlm.
http://www.suarakarya-online.com/

Di awal tahun 1980-an, pemikiran sufisme menjadi tren dalam dunia perpuisian Indonesia. Puisi-puisi sufistik di masa itu ditandai dengan banyaknya “penyair-penyair sufi” seperti Abdul Hadi WM, Acep Zamzam Noor, Ahmadun Yosi Herfanda, Jamal D. Rahman, Soni Farid Maulana, Isbedy Stiawan ZS, Mathori A. Elwa dan lainnya.

Zaman berubah dan dua dekade telah berlalu dari era sastra sufistik tersebut. Dari sejumlah nama penyair yang berada dalam gerbong sastra sufistik itu, salah satu yang masih setia bertahan dan tetap produktif hingga kini adalah Isbedy Stiawan ZS. Nyaris setiap minggu puisi atau cerpennya muncul di rubrik sastra media massa nasional dan daerah.

Pada perkembangannya, puisi-puisi Isbedy sepanjang tahun 90-an melepaskan diri dari label atau tren sufistik tahun 80-an.…

Mencari tuhan di baitil ka’bah

SASTRA SUFI SEBUAH ANTOLOGI
Penyunting: Abdul Hadi WM Penerbit:
Pustaka Firdaus, Jakarta, 1985, 300 halaman
Peresensi: Danarto
http://majalah.tempointeraktif.com/

SEORANG bangsawan tergopoh gopoh mendatangi Nabi Sulaiman. Ia bercerita bahwa Malaikat Maut mendatanginya, dan dengan mata yang mencereng mengawasinya penuh kebencian dan amarah.

“Lalu, apa yang bisa saya bantu?” tanya Nabi Sulaiman. “Oh, pelindung hidupku,” sahut bangsawan itu, “perintahkan angin supaya menerbangkan aku ke India.”

Nabi Sulaiman yang waskita dan digdaya itu, yang dapat berbicara dan memerintah segala makhluk, lalu memerintahkan angin untuk menerbangkan bangsawan tersebut melintasi lautan dan mendaratkannya dengan empuk di pedalaman India.

Keesokan harinya, ketika sidang pleno, Nabi Sulaiman menanyakan kepada Izrail, Malaikat Maut itu, kalau memang mau mencabut nyawa bangsawan tersebut, kenapa tidak lekas-lekas saja. Tak usah memandang dengan menakutkan segala. Malaikat Maut lalu bertutur kepada Nabi Sulaiman bahwa i…

Geliat Menulis Esai Kritik Sastra dan Eksistensi SST (Sanggar Sastra Tasik) di Tasikmalaya

D. Dudu AR
http://oase.kompas.com/

AJAKAN workshop menulis kritik sastra dan laporan budaya dari Jodhi Yudono (pemangku rubrik oase-kompas.com) kepada saya (Pondok Media) beberapa waktu lalu, merupakan salah satu indikasi produktivitas masyarakat Tasikmalaya–menulis essay kritik sastra–jarang geliatnya. Beliau menyatakan ingin sekali masyarakat Tasikmalaya intens menulis kritik sastra dalam rangka memasyarakatkan sastra. Pernyataan tersebut dikuatkan Ashmansah Timutiah (Budayawan dan salah satu pendiri Teater Ambang Wuruk), pada kesempatan acara Tadarus Puisi (04/09) di markas OI Trotoar bahwa sudah saatnya masyarakat Tasikmalaya sering mengadakan acara kritik sastra secara rutin, seiring kelahiran penyair-penyair baru, sepatutnya didampingi kritik konservatif dari apresiator (masyarakat) sehingga berkembang dinamis dan membudayakan masyarakat sadar sastra.

Berbeda dengan pelaku sastra seperti: Acep Zamzam Noor, Saeful Badar, Soni Farid Maulana, Nazaruddin Azhar, Bode Riswandi, Yusran Ar…

SURAT DARI SEOUL

WAN, SELAMAT JALAN!
Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Di pojok kampus HUFS? di pinggir Seoul. Aku terpaku sendiri di tengah kehidupan masyarakat Korea yang tak pernah diam. Segalanya bergerak: fanta rhei! Langkah-langkah cepat dan berderap. Para mahasiswa yang bergegas. Sepatu kulit berhak tinggi, menutup betis mereka. Suaranya keras menghentak jalanan dan tangga-tangga. Dedaunan rontok karena tuntutan hukum alam musim gugur. Sementara di dahan dan ranting pohon-pohon kesemek, bergelantungan buahnya yang berwarna merah menunggu keriput.

Aku memandang pohon eun heng yang meranggas bukan karena panas. Gundul, menyisakan dahan dan rerantingan, serupa kuku-kuku panjang nenek sihir. Satu-dua daunnya jatuh melayang. Mengingatkan pada sms Jamal D Rahman tadi malam. Penyair asal Madura yang puisi-puisinya kerap menggagalkanku untuk menyembunyikan decak pesona, berkirim kabar: Mohon doa. Wan Anwar kritis! Kini, di tengah siang yang dingin, jam 12.00 waktu Seoul, 23 November 2009, HP-k…

Era Baru Penghormatan terhadap Puisi

Fuska Sani Evani
http://www.suarapembaruan.com/

Kelompok musik Pardiman Djojonegoro yang juga meresepsi puisi ke dalam pitutur Jawa pada rangkaian acara sajian Divisi Sastra FKy-XIX 2007 Sabtu (25/8) di sebuah restoran di depan Stasiun Tugu Yogyakarta.

Romo Sindhunata SJ, tampak manggut-manggut. Kadang menekuk siku, kadang geleng-geleng. “Asyik juga ya, gak kalah sama dangdut, bisa juga buat goyang,” katanya.

Ternyata, Romo Sindhu, sedang menikmati irama musik Hip-hop yang dilantunkan empat anak muda, Mamox, Heldi, Bo, dan Balan, personel “Jahanam” salah satu dari sekian kelompok musik Hip-hop di Yogyakarta.

Simak saja syair milik Romo Sindhu yang dilebur dalam irama hip hop.

Sengkuni leda- lede, Mimpi baris ngarep dhewe, Eh barisane menggok,Sengkuni kok malah ndheProk, nongji, nongro.

Anak-anak kelompok musik hip-hop asal Yogyakarta itu, melantunkan syair-syair puisi milik Romo Sindhunata SJ dari kumpulan puisinya Air Kata-kata berjudul Cintamu Sepahit Topi Miring, Rep Kedep dan karya merek…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com