Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2010

Menjaga Tranformasi Keilmuan

Judul Buku : Aku Menulis Maka Aku Ada
Penulis : KH. Zainal Arifin Thoha
Penerbit : Kutub, Yogyakarta
Edisi : Maret 2009
Tebal : xviii + 182 Halaman
Peresensi : Sungatno*
http://cawanaksara.blogspot.com/

Hingga kini, rakyat Indonesia masih mendapat klaim dari berbagai penyelenggara penelitian sebagai bangsa yang minat bacanya rendah. Tak pelak, dari berbagai pihak yang -konon terlanjur- cinta baca, selalu menghimbau dan mengajak bangsa ini untuk berlatih dan membudayakan aktivitas membaca.

Sayangnya, himbauan itu menjadi sia-sia ketika bangsa yang masih malas-malasan untuk membaca ini berkilah. Kilah itu pun tampak logis ketika mereka berdalih bahwa anggaran untuk beli buku lebih baik dialihkan untuk kepentingan yang lebih mendesak kegunaannya. Terlebih ketika harga buku menjadi mahal akibat harga kertas yang melambung. Sementara, perpustakaan yang ada di tengah masyarakat tidak mampu menarik minat baca mereka. Mulai dari koleksi buku yang minim, tidak sesuai dengan perkembangan keilmuan dan i…

Buku Biografi Kiai Pesantren

Saiful Amin Ghofur*
http://www.jawapos.com/

KH MUSTOFA Bisri, suatu ketika, saat orasi pernah mengoarkan kegelisahan: kenapa budaya tulis, khususnya menulis sejarah kehidupan tokohnya sendiri, tidak berkembang di kalangan pesantren, padahal semua menyadari betapa pentingnya hal itu. Gerundelan kiai-budayawan Rembang yang akrab disapa Gus Mus tersebut tentu bukan isapan jempol semata. Apalagi gurauan. Meski diujarkan dengan tergelak, serasa sindiran getir nan satir itu mengena dengan telak.

Kegelisahan Gus Mus itu saya alami sendiri ketika menghimpun data terserak tentang KH Arief Hasan, pendiri Pesantren Roudlotun Nasyi’in Beratkulon, Mojokerto. Padahal, Kiai Arief belum terlalu lama wafat, 1988. Tapi, kisah kehidupannya berpendar secara lisan di antara karib-kerabat yang terpencar-pencar. Sayang, kebanyakan mereka telah menyusul Kiai Arief mangkat. Untuk mengurai keriangan masa kanak-kanak Kiai Arief saja, tinggal seorang teman sepermainan. Itu pun sudah sangat uzur. Bincang pelan dia t…

Kematian Sang Penyair

Dati Wahyuni *)
http://oase.kompas.com/

Judul Buku : Mata Air Inspirasi; Mengenang Pemikiran dan Tindakan KH. Zainal Arifin Thoha, Pendiri dan Pelopor Pesantren Mandiri
Penulis : Joni Aridinata dkk.
Penerbit : Kutub, Yogyakarta
Cetakan : I Maret 2009
Tebal : xiii + 110 halaman

Jika selama ini kita mendengar, membaca atau mengikuti acara yang beraroma sastrawi, yang ada hanyalah pembacaan karya sastra berikut apresiasi terkadap karya tersebut. Sang Pengarang seakan mati. Yang hidup dan layak diapresiasi adalah Sang Karya.

Tentang Sang Karya dan Sang Pengarang ini, Goenawan Mohamad sebagaimana dikutip An. Ismanto, pernah menulis bahwa pembaca kita punya kecenderungan untuk menempatkan Sang Pengarang di pusat, walaupun semestinya yang berperan sebagai lakon utama di panggung sastra adalah Sang Karya. Pembaca kita,”memaksa” Sang Karya untuk mundur atau bahkan menghilang ke balik punggung Sang Pengarang. Sang Pengarang sendiri dimajukan dan, dalam bentuknya yang menakutkan, kecenderungan ini bahka…

Hidayaturrahmah

Zainal Arifin Thoha
http://www.kr.co.id/

LAMA sudah sebenarnya orangtuaku, terutama ayah, menyuruhku agar segera berbaiat dan masuk tarekat, sebagaimana tarekat yang dianut oleh orangtuaku. Namun sejauh itu, aku belum juga melaksanakan permintaan beliau. Bukan aku bermaksud membantah dan apalagi menentang perintah orangtua, melainkan aku merasa bahwa diriku masih terlalu muda. Selain itu, aku pernah bermimpi, dan mimpiku itu menurut guruku adalah bagian dari tarekat. Dan aku, rupanya, lebih sreg atau merasa puas dengan pendapat guruku.

Suatu malam, demikian kisahnya, aku bermimpi bertemu dengan seorang tua berkulit hitam, berjubah putih, orangnya kurus dan lincah. Orang tua itu seakan-akan menyuruhku mengikuti perjalanannya. Anehnya, orang tua itu seperti terbang, meloncat dari satu tempat ke tempat lain, dari satu daerah ke daerah lain, dan lebih aneh lagi aku bisa mengikutinya.

Hingga pada loncatan terbang yang terakhir, dimana aku tak bisa mengejarnya lagi, lantaran orang tua itu terba…

Sastra Klasik al-Isra’ wal-Mi’roj (Karya Imam Najmudin Ghoitd)

Diterjemahkan dari Arab ke Jawa: Yusuf Jaelani
Khototib: Isti Anisa
Alih bahasa ke Indonesia: Imamuddin SA
Diterbitkan PUstaka puJAngga, 11 Juni 2008.
http://sastra-indonesia.com/

Pada suatu ketika, saat malam telah tiba. Kerlap-kerlip bintang di langit cerah menjadi pesona yang begitu berharga. Menjadi saksi akan kemuliaan seorang manusia. Saat itu bertepatan tanggal 27 Rojab 11 kenabian, Nabiullah Muhammad SAW beristirahat. Tidur menyamping di samping Hijir Ismail. Dekat Baitullah. Di samping kanan dan kiri beliau ada dua orang pemuda (Sayyidina Hamzah dan Sayyidina Ja’far bin Abi Tholib). Tiba-tiba di tempat tersebut, beliau didatangi oleh Malaikat Jibril dan Mikail. Selain kedua malaikat itu masih ada satu malaikat lagi, yaitu Malaikat Isrofil. Kemudian ketiga malaikat itu membopong Nabiullah Muhammad hingga sumur Zam-Zam. Lantas Nabiullah Muhammad ditelentangkan di sana. Adapun yang menjadi penanggung jawabnya adalah Malaikat Jibril.

Di dalam sebuah riwayat lain dijelaskan bahwa: tiba-…

Penyair dan Alquran dalam Rekaman Sejarah

Aguk Irawan MN*
http://www.infoanda.com/Republika

Penyair-penyair itu diikuti orang-orang yang sesat. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan kata. Dan mereka sering mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan. Kecuali mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika didzalimi. (QS As-Syu’ara, 24-27)

Di dalam literatur kesusastraan Arab, sebagaimana direkam oleh Syauqi Dlaif dalam buku Tarikh al-Adab al-Arabi (Kairo: Dar al-Maarif, 1968), dijelaskan ahwa Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, tidak saja membawa petunjuk yang benar, tapi juga sebagai ‘penyaing’ keulungan sastra Jahily.

Keulungan sastra Jahily saat itu memang tak diragukan lagi oleh banyak pengamat kebudayaan. Manuskrip-manukskrip kuno (sastra Jahily), membuktikan hal itu. Tetapi, pada zaman itu jangan ditanya bagaimana etika dan moral masyarakatnya. Ibnu Qutaibah dalam buku Asy-Syi’ir wa as-Asyu’ara (Beirut: Dar ats-Tsaqafah, …

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com