Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2011

Kisah Imajinatif di Pojok Pesantren

Judul Buku : Menjadi Bidadari
Penulis : Lianni Qanita [ed.]
Penerbit : Matapena, Jogjakarta
Edisi : I, 2008
Tebal : vi +190 halaman
Peresensi : Mujtahid*
http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/

POJOK pesantren selalu menyisakan nuansa unik. Dibilang unik, karena di lembaga tradisional itu ternyata banyak melahirkan cerita atau kisah aneh yang bertebaran. Mulai kisah yang berbau magis, keramat, klenik hingga yang ritual-spiritual.

Hakikat Bahasa, Mantra, dan Tanggung Jawab

(Tanggapan atas buku Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri)
Mahmud Jauhari Ali
http://sastra-indonesia.com/

Apakah yang terbayang di benak Anda ketika membaca judul saya di atas? Wujud bahasakah? Dukun yang sedang membaca mantra? Seorang lelaki yang sedang menunaikan tanggung jawabnya? Atau apa?

Hari itu, di sebuah ruang belajar, saya pernah menyimak sebuah pertanyaan singkat, “Apakah bahasa itu?” Mungkin Anda juga pernah mendengarnya. Mungkin juga tidak. Mengenai pertanyaan tersebut, banyak orang menjawabnya dengan kalimat sederhana, “Bahasa ialah alat komunikasi.” Pertanyaannya sekarang adalah, benarkah bahasa itu memang alat komunikasi?

Menulis Ulang Sebuah Proses Menulis Puisi

Soni Farid Maulana
http://www.pikiran-rakyat.com/

ALHAMDULILLAH laman Mata Kata bisa kembali hadir ke hadapan Anda pada Selasa ketiga, April 2011. Dalam kesempatan kali ini, redaksi memilih puisi yang ditulis oleh penyair Ardi Mulyana Haryadi (Garut) dan Moh. Ghufron Cholid (Madura) dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Dalam puisi yang ditulisnya, Ardi menuliskan pengalaman batinnya lewat gaya ungkap haiku dengan pola 5-7-5 suku kata pada setiap lariknya. Menulis puisi haiku sebagaimana dikatakan para pakar, atau setidaknya sebagaimana yang pernah saya dengar dari almarhum Wing Kardjo, adalah penulis sebuah pengalaman puitik dengan kalimat yang ringkas dan padat. Di dalam kalimat yang demikian itu, pikiran dan perasaan (hati) harus menyatu, dan tidak terpecah belah.

Surat Terbuka untuk M Fadjroel Rachman Dkk

Kuswaidi Syafi’ie*
Media Indonesia, 19 Agust 2007

DI dalam tulisanmu yang berjudul ‘Membela Manusia, Merayakan Kebebasan’ (Media Indonesia, 29 Juli 2007), Anda mengandaikan tidak ada tujuan dan ukuran apa pun di luar kehidupan manusia dan kemanusiaan. Saya pun jauh-jauh hari sudah memahami ungkapan demikian, tepatnya 20 tahun yang silam ketika saya mempelajari kitab Manthiq di sebuah pesantren. Adagium Al-insanu miqyasu kulli syayin dikumandangkan dengan lantang oleh filsafat subjektivisme.

Belanja Religiusitas dalam Novel Populer

Putu Fajar Arcana
Kompas, 27 Des 2009

EMPAT tahun setelah novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy terbit tahun 2004, dunia film mengangkatnya menjadi semakin populer. Film berjudul sama yang disutradarai Hanung Bramantyo itu setidaknya berhasil menjaring 3,7 juta penonton. Sebuah angka fantastis yang dicapai dalam waktu singkat. Teks sastra sebagai novel mungkin akan ngos-ngosan jika ingin melampaui pencapaian itu!

Kiai Kanjeng Melintasi Terowongan Budaya Barat

Muhammadun AS*
Media Indonesia, 27 Jan 2008

DARI berbagai grup musik di Indonesia, nama Kiai Kanjeng tidaklah asing. Kiai Kanjeng dianggap grup musik yang berbeda dari musik Indonesia pada umumnya. Kegiatan keliling Kiai Kanjeng merupakan bagian dari pekerjaan sosial Emha Ainun Nadjib langsung di masyarakat, terutama grassroot dan menengah bawah. Kegiatan itu multikonteks meliputi budaya, keagamaan, spiritual, social problem solving, dan pendidikan politik.

Serat-serat Makna dalam Cerpen-cerpen S.W. Teofani

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Sebelum menulis ini, ada ruh-ruh menawarkanku untuk melewati gelombangnya, sedenyar cahaya bertumpuk-tumpuk pelbagai warna fajar atau senjakala bertuah. Ruh suara itu kadang mengambang, menelisiki ceruk bumi rahasia, dikala naik setinggi derap selat Sunda. Berhamburan sumringah mengabarkan gugusan kilau tak terkira.

SASTRA ACEH: SEBUAH PERJALANAN PANJANG

DARI HAMZAH FANSURI SAMPAI GENERASI TERKINI *
Maman S. Mahayana **
http://mahayana-mahadewa.com/

Membicarakan perjalanan sastra Aceh dengan rentang waktu yang begitu panjang (dari Hamzah Fansuri sampai Generasi Terkini) adalah tugas mahaberat yang keseluruhan perjalanannya mustahil dapat diungkapkan dalam beberapa halaman saja. Oleh karena itu, pembicaraan ini sesungguhnya sekadar gambaran umum, bagaimana sastra Aceh bergulir, menggelinding dan kemudian menjadi salah satu bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari lanskap kesusastraan Indonesia.

Membaca Spiritual Rumi Melalui Karyanya

Mujtahid *
http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/

MESKI telah meninggal tujuh abad yang silam, namun penyair ulung Jalaluddin Rumi masih terasa hangat di peredaraan zaman. Hal ini terbukti dengan sejumlah karya-karya Masterpiece Rumi yang masih diminati banyak kalangan, baik kaum Muslim maupun non Muslim. Daya magnit yang ia tinggalkan, seolah sekeping emas yang dicari-cari banyak orang. Selain itu, reputasi Rumi agaknya sulit ditandingkan dengan penyair-penyair lain.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com