Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2011

Bila Santri Menjadi Penulis

Judul : Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis
Prolog : Prof. Dr. Nur Syam, M.Si
Epilog : Prof. Dr. Abd. A'la, MA
Penerbit : Muara Progresif, Surabaya
Cetakan : I, Desember 2009
Teba : xii+224 hal.
Peresensi : Ach. Tirmidzi Munahwan
http://www.harianbhirawa.co.id/

KALIBAKAR

Azizah Hefni
http://sastra-indonesia.com/

Ribut. Teriakan sahut-menyahut. Suara serak beradu suara kecil di ruangan berselambu. Ada nyala televisi dengan volume tinggi. Belum lagi bunyi sirine kereta jalan. Semua bercampur dan siap pecah. Lantaran selambu kamar tak ada, pantulan mentari jadi meraja. Gerah. Tiap titik kegerahan menyimbolkan resah serta amarah. Tak tahan, perempuan itu membanting tasnya ke lantai dan berjalan mantap ke ruangan.

LIMA ROMADHON DARMINTO

Muhammad Zuriat Fadil
http://sastra-indonesia.com/

Darminto seorang preman kampung kami, tak usah macam-macam menyebutnya, tak usah mempercantik kata, begitu saja karena memang tidak puitis. Sehari-harinya ya mabok, judi, berkelahi, main pelacur, dan lain sebagainya yang mengukuhkan posisinya sebagai preman nomer satu di kampung kami.

Dunia dan Strategi Baru Pesantren

Aguk Irawan M.N.
http://cetak.kompas.com/

Menjelang hajatan besar Nahdlatul Ulama, baik juga mendengar keluhan sejumlah selebriti. Mereka mengaku merasa resah dengan adanya beragam fatwa. Misalnya, fatwa soal hukum haramnya penggunaan jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter, melakukan rebonding, foto pre-wedding dan beberapa hal lain yang berkaitan dengan ”gaya hidup modern”.

Meruntuhkan Mitos Sutardji

(sebuah catatan dari bincang buku “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan SCB”)
Noval Jubbek*
http://sastra-indonesia.com/

Ketika beranjak remaja masa-masa SMA saya mulai tertarik menulis, lebih tepatnya merangkai kata-kata untuk sekedar memuji sosok perempuan yang saya suka. Dan serius mencari-cari tulisan indah (puisi) melalui buku-buku pelajaran. Ada beberapa nama yang puisinya sudah berakar (tak saya sadari nyata terdapat di buku tingkatan SD, SMP) salah satunya Sutardji Calzoum Bachri (SCB), yang terus terang rata-rata puisinya tak saya pahami maknanya. Ketika itu pula saya berpikir, apa mungkin puisi yang aneh bisa masuk ke dalam buku pelajaran anak sekolah?

Mulanya *

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Seperti biasa, aku mencari data-data dari media massa di Google untuk kuunggah pada web http://sastra-indonesia.com/ yang telah berjalan sejak Juli 2008. Aku nekat membikin situs tersebut dari biaya transport acara sastra di Jakarta. Sepulang dari Ibu Kota, perasaanku seolah sudah menjadi penyair, apalagi membaca puisi sepanggung dengan para jawara sastra, pada malam pengukuhan Guru Besar Abdul Hadi W.M., di kampus Paramadina Jakarta.

Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

I
Tulisan ini tanggapan untuk esai Sutardji Calzoum Bachri bertitel Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair ; orasi budayanya di dalam acara Pekan Presiden Penyair, yang dimuat Republika, 9 September 2007. Dalam tulisan itu Tardji menyatakan teks Sumpah Pemuda sebagai puisi, yang dilandasi faham Ibnu Arabi mengenai kun fayakun, kemudian dikembangkan frasa-frasa berikut:

Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji TautanCalzoum Bachri (II)

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

II
Sebelum merantak, izinkan diriku keluarkan isi hati di sementara waktu. Sebenarnya aku belum cukup umur dan ilmu untuk mengupas hal ini. Tapi untuk menjawab esai Tardji dan kupasan para penyair yang pernah kubaca mengenai Asy Syu’ara, serasa ada angin menggegaskanku untuk menuliskan. Tentu tidak menutup ketetapan ulang di masa datang, demi penajaman makna usia pengalaman, sehingga yakin adanya, demikian tuturan prolog dari pengelana.

Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (III)

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

III
Tidak asing lagi, nama Sutardji Calzoum Bachri di belantika kesusastraan Indonesia atas Kredo Puisi-nya. Di bawah ini aku petik sebagian darinya:

Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.


Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (IV)

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

IV
Cukilan tulisan Dr. Abu Hanifah, Menyambut Ceramah Mochtar Lubis, Renungan Tentang “Manusia Indonesia Masa Kini” bagian Lahirnya Sumpah Pemuda:

Buku ini ditulis (keterangan sebelumnya; ada membicarakan sifat-sifat manusia Indonesia, dalam cara seperti dikemukakan oleh Saudara Mochtar Lubis. Dicetak tahun 1920, Haarlem, pengarangnya Prof. J.C. van Eerde, guru besar Universitas Amsterdam dan Direktur dari Koloniaal Institute te Amsterdam.

Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (V)

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

V
Ada beberapa mantra Jawa mengadopsi nilai ajaran Islam, salah satunya lewar, malah mengotori ruhaniah kedalamannya, semisal ajian kulhusungsang, diambil dari surat Al-Ikhlas, tapi diputarbalikkan hingga jempalitan tak tentu arah.

Mantra-mantra berdaya ruhani rendah yang paras auranya merah, mudah dipelajari karena menghamba jin atau manunggaling kawulo jin; bentuk-bentuk penyimpangan dari ajaran murni yang sengaja dirombak demi pamor berbalik. Biasanya dipakai para dukun yang tidak bertanggung jawab.

Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VI)

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

VI
Di buku Raja Mantra Presiden Penyair, sastrawan Taufik Ikram Jamil menulis esai bertitel Bersama Sutardji Calzoum Bachri seluas 16 halaman, dari nomor 64 sampai 79, mengisahkan keakraban dirinya dengan sosok dikenal tukang mantra itu. Ikram mengudar perjalanan Tardji sedari kanak hingga proses kreatif di tanah Pasundan, berpelukan hangat kerinduan, seperti mengetahui persis tapak langkah dengus aroma, dan gelagat rupa gemawan apa saja yang menaungi.

Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VII)

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

VII
Bagian ini menuruti angka ganjil VII, sebagai letak pemberhentian atas ketaksesuaianku dengan Tardji. Yang bermula igauannya bahwa Tuhan berimajinasi, bermimpi, hingga menggugah diriku mendatangi:

Jika tidak satu pun kritikus dapat memberikan penilaian atau pemahaman yang meyakinkan atau malah hanya sekadar komentar asal bunyi atau lip service saja, maka pengarangnya harus angkat bicara.

Akhirnya

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Dua esai Tardji sebagai lampiran sudah cukup untuk mengidentifikasi anatominya di wilayah susastra yang mungusung “mantra” dari akar-akarnya, yaitu tradisi.

Dalam ilmu kemantraan di bencah tanah Jawa, ada istilah ajianpanglimunan, berguna tidak untuk menyerang, pun membentengi dari sergapan. Tepatnya berdaya mengaburkan pandangan musuh demi meloloskan jejak atau memberi kefahaman keliru kepada yang dihadapinya. Olah ini mampu membuat bingung sehingga mudah menyerang balik. Biasanya ajian ini dipakai dalam keadaan terjepit. Jika ditampakkan di permukaan menjadi pengecoh. Bahasa sederhananya berpura-pura atau menipu.

Pesantren sebagai Miniatur Indonesia

Imam Hamidi Antassalam
Kompas, 18 April 2011

KETIKA di masa lalu Nusantara, terutama tanah Jawa, masih dikuasai oleh sultan dan raja-raja, kaum santri dari kalangan pesantren memiliki posisi sosial yang tinggi bahkan dapat dibilang istimewa.

Di dalam pesantren, seorang kiai kerap mengunjungi asrama atau kamar para santri untuk memperbincangkan segala perkara yang dihadapi —laik bahsul masail— baik yang ilmiah maupun alamiah, di samping akrab dengan masyarakat di sekitar pesantren. Hubungan masyarakat dan pesantren pun erat dan dekat, begitu menyatu.

Nurel Javissyarqi Gugat!

Wawan Eko Yulianto
http://sastra-indonesia.com/

Seperlu apakah kita menggugat Sutardji Calzoum Bachri? Sangat, bagi Nurel Javissyarqi. Kenapa? Sepertinya cukup banyak alasan untuk melakukannya. Apa saja yang perlu digugat? Saya akan coba mendaftar beberapa saja yang berhasil saya tangkap dari buku Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri.

Gugatan Nurel dipicu oleh esai Tardji yang berjudul “Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair,” di mana Nurel menemukan paragraf mono-kalimat ini:

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com