Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2011

KH. M. Hasyim Asy’ari Pendiri dan Pegasuh Pertama Pesantren Tebuireng (1899 – 1947)

http://www.tebuireng.net/

KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (selanjutnya disingkat Kiai Hasyim) adalah pendiri pesantren Tebuireng, tokoh ulama dan pendiri NU, organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Namanya sudah tidak asing lagi di telinga orang Indonesia. Pahlawan nasional ini merupakan salah satu tokoh besar Indonesia abad ke-20.

SYEIKH NAWAWI AL BANTANI (Digelar Imam Nawawi Kedua)

Diposkan: Majelis Ribaathul Muhibbiin
http://ribaathulmuhibbiin.blogspot.com/

NAMA Imam Nawawi tidak asing lagi bagi dunia Islam terutama dalam lingkungan ulama-ulama Syafi'iyah. Ulama ini sangat terkenal kerana banyak karangannya yang dikaji pada setiap zaman dari dahulu sampai sekarang. Pada penghujung abad ke-18 lahir pula seorang yang bernama Nawawi di Banten, Jawa Barat. Setelah dia menuntut ilmu yang sangat banyak, mensyarah kitab-kitab bahasa Arab dalam pelbagai disiplin ilmu yang sangat banyak pula, maka dia digelar Imam Nawawi ats-Tsani, ertinya Imam Nawawi Yang Kedua. Orang pertama memberi gelaran demikian ialah Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani.

Sastra, Seks dan Moralitas Anak Bangsa

Lukman Asya*
Republika, 16 Sep 2007

POLEMIK tentang kebebasan berekspresi, agama dan moralitas selalu menarik. Begitu juga polemik yang disulut oleh dituduhkan Taufiq Ismail (TI) terhadap Fiksi Alat Kelamin (FAK), Mazhab Sastra Selangkangan (MSS), dan Gerakan Syahwat Merdeka (GSM), yang sejauh ini belum menemukan titik temu.

Menurut saya, pembacaan TI hendaknya disikapi terbuka dan bijaksana. Saya meyakini TI punya argumentasi kuat untuk itu, meskipun disampaikan dengan cara-cara seorang tua yang konservatif dan terkesan nyinyir. Intinya, TI memprihatini jagat “esek-esek” yang saat ini sudah pada tingkat membahayakan generasi muda, dan lebih berbahaya lagi ketika karya sastra ikut merayakannya.

Kedai Film Nusantara, Kedai Seni Budaya Indonesia

Linda Sarmili
http://www.suarakarya-online.com/

Film Indonesia yang banyak beredar di sejumlah bioskop di tanah air, adalah gambaran hidup Indonesia. Keberadaannya terus semakin maju, tetapi juga disisi lain ada yang semakin mundur.

Terus terlihat maju jika dilihat bahwa dari tahunh ke tahun tingkat konsumsi masyarakat penonton terus meningkat. Hal ini, bisa terjadi, tentu saja akibat dari kemajuan teknologi.

Tafsir Budaya Mistisisme

E Tryar Dianto*
Seputar Indonesia, 27 Jan 2008

BUDAYA bukanlah sesuatu yang asli (genuine), tapi hasil konstruksi manusia setiap jamannya. Karena itu,setiap masa memiliki tafsir sendiri tentang kepemilikan budaya. Salah satu budaya yang mengakar kuat di masyarakat adalah mistisisme.

Dalam masyarakat Indonesia,budaya mistisisme hampir bisa ditemukan dalam setiap jengkal kehidupan. Masyarakat Jawa, misalnya, mengenal adanya upacara-upacara adat (slametan), kepercayaan terhadap makhluk halus (memedi, lelembut, tuyul, demit), dan keyakinan berbau sihir (santet, pesugihan, pelet). Khusus tentang mistisisme Jawa, Clifford Geertz mengeksplorasi dengan baik dalam karyanya The Religion of Java dan Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa.

Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis

Judul Buku : Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis
Penulis : Rizal Mumazziq Zionis, dkk.
Editor : Tsanin A. Zuhairi, S,Hi, M.Si.
Prolog : Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si
Penerbit : Muara Progresif, Surabaya
Cetakan : I; 2009
Tebal : vii + 224 halaman
Peresensi : Anwar Nuris*
http://gp-ansor.org/

Hasyim Asy’ari dan Historisitas Moderasi Islam

Johan Wahyudi
Kompas, 28 Maret 2010

PEMIKIRAN Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari atau lebih akrab dipanggil Kiai Hasyim merupakan representasi dari kondisi dialogis agama dengan tradisi dan budaya. Islam bukan hanya berkutat pada kesalehan ritualistik semata, tetapi lebih jauh sebagai sarana pemecah jalan buntu berbagai anomi sosial.

Sosok kiai asal Jombang dan peletak dasar Nahdlatul Ulama ini merupakan ulama yang mempunyai diskursus perjuangan yang interdisipliner. Baginya, ulama bukan hanya menjadi ”penjaga malam” umat lewat ajaran yang berkutat pada halal-haram, seperti kebanyakan ulama zaman sekarang. Menurut dia, ulama adalah mereka yang mampu menyintesiskan perjuangannya pada konteks sosial. Ulama bukan hanya memimpin umat, tetapi juga memberdayakan dan memberikan pencerahan kepada umat.

Masygul di Bulan Baik

Yusi Avianto Pareanom
Sumber: ruang baca Tempo

Hari-hari ini saya banyak masygul. Sebetulnya ini bukan cara yang baik untuk menjalani bulan baik. Tapi mau bagaimana lagi, saya bukan orang yang terlalu baik saat berhadapan dengan hal-hal yang kurang baik. Apalagi kalau hal-hal kurang baik itu berkaitan dengan dunia saya mencari nafkah (hal baik), yaitu penulisan dan buku.

STMJ Keliru Sang Kiai *

Yusuf Suharto**
http://media-lamongan.blogspot.com/

Membedah novel benar-benar hal yang baru bagi saya. Bagaimana tidak, novel ini baru terhitung novel kedua yang pernah saya bedah dalam perspektif saya sebagai santri, dan kebetulan pula kedua novel itu dilahirkan orang yang dekat dengan tradisi pesantren. Novel pertama yang saya maksud adalah novel Spesies Santri”, karya Habib Mustofa dan kemudian novel di hadapan kita ini.

NING RIRY

Ramadhan Alyafi *
http://www.radarmojokerto.co.id/

“Aku menyesal telah mengenalmu, Ri. Mengenal seorang Ning Riry Azzahra!! Mengapa Allah mempertemukan kita kalau akhirnya kita harus berpisah seperti ini.” Ucapku kepada Ning Riry pada suatu senja di temani hujan deras. Ning Riry hanya bisa terdiam seribu bahasa di depanku. Sementara itu pakaian kami telah basah kuyup di guyur hujan deras. Kami berdua terdiam di tengah halaman kampus yang sudah sepi. Sepi dari para mahasiswa yang kuliah hari itu.

Pengorbanan dan Pengkhianatan

M. Kanzul Fikri
http://www.radarmojokerto.co.id/

Wulan adalah salah satu santriwati yang pandai dan rupawan, dan juga termasuk keturunan priyayi. Maka tidak perlu heran bila dia menjadi idaman kaum Adam. Namanya sudah tidak asing lagi di telinga kaum Adam. Baik di sekolah maupun di pondok putra. Salah satu lelaki yang menaruh hati padanya adalah teman sekelasnya. Yang statusnya sebagai santri alias berasrama di pondok, yaitu Romy.

JENGGOT KYAI MADENUN

Cucuk Espe
Harian SURYA Juni 2009 (ketika masih memiliki Rubrik Budaya)

Udara masih terasa basah. Semalam hujan turun tanpa ampun. Di luar matahari masih bermalas-malasan sembunyi di balik awan. Ketika itu, Kyai Madenun sedang berpikir keras di depan cermin dalam kamar. Berulang kali dia mengernyitkan dahi. Ada setumpuk persoalan berat yang hinggap di pikiran. Kopyahnya agak miring menutupi separo kening.

“Ini tidak masuk akal!” lenguhnya sambil menghempaskan napas berat. Sejenak dia melempar pandangan ke luar lewat jendela. Tampak puluhan santri sedang membersihkan halaman.

Melacak Tilas Santri Majapahit

Fahrudin Nasrulloh
Suara Merdeka, 5Agustus2007

Pada 27 April 2006 saya bertemu dengan seorang penelusur silsilah Kiai Hasan Besari, Tegalsari, Ponorogo; Pak Haris Daryono namanya (ia sendiri berdomisili di Tulungagung). Perjumpaan itu terjadi di rumah seorang sahabat di komplek perumahan Minomartani di Sleman, Yogyakarta. Sungguh pertemuan yang tak disangka-sangka. Sebab saya sendiri sedang mencari informasi tentang pesantren tertua di Jawa. Memang, menurut Martin van Bruinessen, Pesantren Tegalsarilah yang merupakan pesantren pertama di Jawa pada abad 18. Sebab pada abad 17, bahkan 16, tidak ditemukan data otentik yang menunjukkan adanya pondok pesantren. Sekali lagi kabar ini menurut Tuan Martin.

Jejak Langkah Sanggar Belajar Bareng Gubug Liat

Rahmat Sularso Nh*
http://www.radarmojokerto.co.id/

Jombang sebagai kota dengan demografi yang strategis karena representatif dalam jalur transportasi, pergerakan ekonomi, serta arus kebudayaan. Tidak pelak kondisi ini benar-benar terasa dalam arus budaya yang terus berkembang dan mengalami kondisi bergeliat akhir-akhir ini semangat penggiat seni Jombang. Terlihat dari pelbagai kantong-kantong kesenian mulai berjalan dengan genre yang di bawanya.

WAJAH KOMUNITAS SASTRA JOMBANG *

Purwanto, Siti Sa’adah
http://sastra-indonesia.com/

Membincang sastra dalam wilayah publik, akan kita temui sebuah gambaran eksplisit tentang realita sastra di masyarakat. Ketika merujuk pada masyarakat sastra, tidak diragukan lagi betapa penting dan perlunya perananan sastra dalam masyarakat tersebut. Namun lain halnya pada masyarakat awam sastra, kemungkinan besar yang terjadi adalah sastra hanya dipandang sebelah mata.

Pesantren “Gudang Sastra” dan Kiai “Makelar Budaya”

Fathurrahman Karyadi *
http://www.radarmojokerto.co.id/

Kamis malam Jumat (9/6/11), penulis menghadiri undangan sebagai pemateri sastra di FKJS (Forum Kajian Sastra) di Pesantren Langitan Tuban. Meski jumlah peserta hanya 40-an santri dari 1500-an santri, namun mereka sangat antusias sekali. Bayangkan saja, acara dimulai ba’da isya hingga pukul 23.00 WIB. Bagi mereka sastra bukanlah hal yang serius dan sulit, namun sebuah kebiasaan/budaya sehari-hari yang mengasyikkan.

In Memoriam: Si “Superhilang…” Kini Telah Tiada

Isbedy Stiawan Z.S.
http://www.lampungpost.com/

Dunia sastra Indonesia kembali kehilangan salah seorang sastrawan terbaiknya. Hamid Jabbar meninggal saat mengisi Pentas Orasi Seni dan Budaya di Universitas Islam Negeri (UIN–dulu IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu malam (29-5), bersama Jamal D. Rahman, Putu Wijaya, Frans Magnis Suseno, dan Frangky Sahilatua. Acara itu sendiri merupakan rangkaian Dies Natalis ke-2 UIN.

Puisi-Puisi Hamid Jabbar

http://sastra-indonesia.com/
LAPANGAN RUMPUT, SISA EMBUN DAN MASA KANAK-KANAK

Lapangan rumput, sisa embun dan masa kanak-
kanak menggelinding bagai bola, serangga tak
bernama, impian-impian dan entah apa-apa.
Menggelinding bagai bola, sebuah lomba tentang
bahagia, gol dan sukses, tetapi yang terjaring adalah
nasib dan bukan tidak apa-apa. Peluit tidak
berbunyi, aturan-aturan dibuat dan dimakan,

Hamid Jabbar, Meninggal ketika Berpuisi

Benny Benke
http://www.suaramerdeka.com/

”SANG waktu masih saja berlagu mengalir tertib tanpa sedikit pun merasa ragu. Aku pun mengalir di dalamnya. Kadang-kadang terasa lewat dan terjepit di sela-sela sang waktu, tersendat-sendat, kemudian terhuyung-huyung seakan menggelinding dari ”kutub-ingat” lewat titik pusat kebingungan…

Itulah sekelumit tulisan Hamid Jabbar yang mengulas soal puisi dengan judul “Ketidakberdayaan, Pergulatan, Penyerahan, dan Kebangkitan? Ya, dalam Iman!” yang dimuat dalam situs Segerobak Puisi Hamid Jabbar.

Krisis Peradaban (Matabaca) Bangsa

Hari Buku Nasional, 17 Mei 2011
Abdul Gaffar
http://www.analisadaily.com/

Tanggal 17 Mei 2011, merupakan momentum guna membangkitkan kesadaran akan komitmen menjadikan buku sebagai pemantik dalam memajukan peradaban bangsa. Artinya, kemajuan suatu peradana Negara bisa dilihat dari seberapa besar daya bangsa dalam memanfaatkan buku sebagai menu prioritas dalam membaca.

Syair Arab di Pesantren: Bukan Sekedar untuk Dihafal! *

Fathurrahman Karyadi

Di pesantren kitab-kitab literatur ilmu 'arudl—sebuah cabang ilmu yang mempelajari syair Arab—masih banyak pelajari. Seperti di antaranya Mukhtashar al-Syâfî karya Muhammad al-Damanhuri, Jawâhir al-Addab karya Ahmad al-Hasyimi dan sebagainya. Biasanya para santri yang mempejari fan ini adalah mereka yang sudah lulus dari kelas Nahwu tingkat al-Imrîthy. Bagi yang belum mencapai tingkatan tersebut maka tidak diperkenankan mengkaji 'arudl sebab pembahasan yang disuguhkan agak rumit.

Lukisan Perempuan *

Kafiyatun Hasya
http://sastra-indonesia.com/

“Aku memang tak menampakkan dihalayak banyak orang, tapi aku tahu kau diantara mereka”. Ucapmu padaku disenja kemaren. Entah kenapa aku tak bisa mengerti posisimu. Kau sebagai seorang pelukis yang terkenal, tak pantang memenyerah ketika malas menyambar semagatmu. Mungkin itu karena kau hidup dari hasil corat-coret tanganmu. Tapi aku yang berstatus kekasihmu sejak dua tahun yang lalu, tak penah kau kenalkan dengan teman-temanmu. Kau hanya mengenalkanku pada lukisan-lukisanmu. Kau paling banyak melukis perempuan daripada benda atau makhluk lainnya. Saat ditanya, kau hanya menjawab dengan senyuman serta sentuhan lembut ditanganku untuk sekedar menenangkanku.

Syi'ir Tanpo Waton {al-magfurlah KH Abdurrahman Wachid (Gus Dur) }

استغفر الله ربّ البرايا # استتغفر الله من الخطا يا
ربّي زدني علما نافعا # ووفّقني عملا صالحا

يا رسول الله سلام عليك # يا رفيع الشان و الدرج
عطفة يا جيرة العالم # يا أهَيل الجود والكرم

Ngawiti ingsun, nglaras Syi'iran
kelawan muji mareng Pangeran
kang paring rohmat lan kenikmatan
rino wengine tanpo pitungan (2X).

MENIMBANG KEPENYAIRAN SUTARDJI CALZOUM BACHRI (SCB) DARI BUKU NUREL: MENGGUGAT TANGGUNGJAWAB KEPENYAIRAN *

Aguk Irawan MN**
http://sastra-indonesia.com/

Penyair-penyair itu diikuti orang-orang yang sesat. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan kata. Dan mereka sering mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan. Kecuali mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika didzalimi. (QS As-Syu’ara, 224-227).

Nilai-nilai Kritik Sosial dalam Sastra

Mujtahid
http://www.uin-malang.ac.id/

SASTRA merupakan salah satu cara mengungkapkan ekpresi jiwa, perasaan, pikiran di tengah suasana yang hidup, bukan ruang kosong. Sastra bukan hanya mencitrakan nilai estetis, tetapi memiliki nilai pesan moral yang dalam, mengena dan lugas. Tak hanya itu, sastra dipandang paling ampuh dalam melakukan kritik sosial, kekuasaan dan sebuah tatanan yang menyimpang dari kelaziman.

Relasi sastra dengan keadaan masyarakat merupakan hubungan dialektis, yang saling mempengaruhi perkembangannya. Posisi sastra harus menempatkan tema pesan sesuai dengan tingkat peradaban masyarakat.

Tradisi Menulis di Pesantren Dimulai Sejak Walisongo dan Ronggowarsito

HALAQAH KEBUDAYAAN PESANTREN
http://nu.or.id/

Tradisi menulis di pesantren sudah dimuai sejak lama, bahkan semenjak zaman para wali songo dengan Tembang Dandang Gulanya (Sunan Kalijaga ), Sinom (Sunan Muria) dan seterusnya.

Era selanjutnya diisi oleh Raden Ronggowarsito dengan Serat Kalatida, Syeikh Nawawi Banten, Syeikh Mahfudz Termas, Syeikh Hamzah Fanshuri, Syeikh Abdur Rauf Sinkel Aceh, Syeikh Khatib Sambas, Syeikh Ihsan Jampes.

Mengorek Mistisme Jawa

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

AFRIZAL MALNA, via “Sebuah Novel dalam 11 Cerpen dan Politik Imajinasi Jawa dari “dia-yang-bercerita”-Kata Pengantar di dalam kumpulan cerpen Fahrudin Nasrulloh, Syekh Bejirun dan Rajah Anjing (Pustaka Pujangga, Lamongan, 2011)-, menggarisbawahi tiga entitas pendukung cerita: obyek yang diceritakan, subyek sang pencerita, dan penerima cerita. Sedang Fahrudin Nasrulloh (FN), sebagai sang subyek pencerita, menulis pengantar yang menggarisbawahi peranan penting dari bahan yang mendorongnya bercerita, dengan merunut asal-usul dari semua bahan cerita yang kini berujudkan 11 cerpen. Lantas bagaimana nasib pembaca cerita yang meresepsinya?

Integritas dan Jalan Hidup Intelektual

Muhammad Al-Fayyadl*
http://www.jawapos.com/

Menjadi intelektual di zaman yang penuh dengan godaan anti-intelektualisme tidaklah mudah. Menjadi intelektual berarti terlibat dalam persoalan-persoalan yang melingkupi lingkungan sekitar tanpa kehilangan integritas dan keotentikan. Persoalannya kemudian, mungkinkah mengambil posisi yang demikian saat ini?

Gempuran budaya populer yang dibawa oleh teknologi dan perkembangan audio-visual membawa konsekuensi yang tak terelakkan bagi pergeseran dunia pemikiran dewasa ini. Pengaruh budaya populer yang mengutamakan ”komunikativitas” (communicativeness), yaitu tersampaikannya ide-ide menjadi lebih komunikatif di mata orang kebanyakan, telah mengubah cara seorang intelektual mengutarakan gagasannya.

Islam, Pasantren, dan Solusi

Alvi Puspita
Riau Pos, 31 Juli 2011

AHMAD Fuadi, seorang anak kampung dari ceruk Maninjau Sumatera Barat, menuliskan novel Negeri 5 Menara. Dalam waktu dua tahun, novel tersebut telah mengalami sepuluh kali cetak ulang. Mengapa dan ada apa dengan novel ini?

Islam, Pasantren dan Solusi (Ideologi Utama)

Puisi-Puisi D. Zawawi Imron

http://www.jawapos.com/
ODE BUAT GUS DUR

I
Aku tak tahu, kata apa yang pantas kami ucapkan
untuk melepaskan, setelah engkau bulat
menjadi arwah
Setiap daun kering pasti terlepas dari tangkai
bersama takdir Tuhan
Untuk itu kami resapi Al-Ghazali
bahwa tak ada yang lebih baik
daripada yang telah ditakdirkan Allah

Perbandingan Cerpen “Kiamat Kecil di Sempadan Pulau” dan “Cinta Ibu”

Dr Junaidi SS MHum
http://www.riaupos.com/

Ketika saya membaca cerpen yang terhimpun dalam buku Pipa Air Mata Cerpen Pilihan Riau Pos 2008, terbitan Yayasan Sagang tahun 2008, saya menemukan dua cerpen yang menarik untuk dibandingkan. Cerpen pertama berjudul “Kiamat Kecil di Sempadan Pulau” karya Fakhrunnas MA Jabbar dan yang kedua berjudul “Cinta Ibu” karya Hary B Kori’un. Cerpen lain yang terdapat dalam buku ini sebenarnya sangat menarik juga untuk dibincangkan.

Novel Mahabbah Rindu dan Puncak Fiksi Islami

Ahmadun Yosi Herfanda*
http://www.infoanda.com/Republika

Sebuah ‘novel sastra’ yang Islami hadir lagi dari seorang perempuan Muslim penulis: Mahabbah Rindu karya Abidah el Khalieqy. Novel setebal 404 halaman terbitan Diva Pres (Yogyakarta, November 2007) ini menambah kekayaan khasanah fiksi Indonesia kontemporer yang masih tetap diramaikan oleh karya-karya para perempuan penulis.

“juru peta” sastra Indonesia [Hans Bague Jassin]

“Buku-buku para Manifestan dilarang terbit dan beredar.” H.B. Jassin
Leila S. Chudori
http://majalah.tempointeraktif.com/

DI samping mendapat julukan “Paus” Sastra Indonesia, Hans Bague Jassin juga dipanggil administrator dan diktator sastra. Ia pernah memukul Chairil Anwar. Dihukum 1 tahun penjara gara-gara cerpen Langit Makin Mendung. Inilah orang yang telah menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Indonesia. Lahir di Gorontalo, 31 Juli 191 7, mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Indonesia, juru peta sastra Indonesia yang tak pernah lelah.

Membaca ”Realisme” Emha

Muhammad Al-Fayyadl
http://www.sinarharapan.co.id/

Nama Emha Ainun Najib dalam jagat kepenulisan kita sudah tak asing lagi. Ratusan kolom dan belasan buku telah lahir dari tangannya, termasuk sejumlah besar feature yang ditulisnya untuk media massa. Namun, dari sekian banyak tulisannya, orang mungkin akan mencatat bahwa karya Emha di bidang penulisan cerpen jauh lebih sedikit dibanding puisi atau esai-esainya, meski tak kalah fenomenal. Cerpen-cerpen yang ditulisnya merentang dari tahun 1977 sampai 1982, masa-masa awal ketika Emha baru memulai kariernya sebagai penulis. Segenggam cerpen itu, yang kini telah terbit dalam antologi tunggal BH (2005), menunjukkan dengan jernih bagaimana Emha berevolusi menjadi penulis yang benar-benar matang dalam mengolah kata-kata.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com