Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

Perihal Anjing Yang Suka Azan

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Di perantauan mana pun, yang penting bagi seseorang ialah sopan, jujur, dan tahudiri. Itu kunci. Bagaimana menempatkan diri sebagai perantau! Siapa tuan rumah? Siapa pendatang? Jika itu dilakukan, saudara dan orang tua dengan mudah terjalin di mana saja.

Awalnya aku mengenal I Ketut Sunyahne, Balinese tulen yang tak begitu cakap berbahsa Indonesia, tapi dia malah mengerti kalau aku berbahasa Jawa kuno. Barulah aku yakin pada sejarah, bahwa ras penduduk Bali, bernenek moyang Jawa yang lari jaman Majapahit dulu.

Pluralisme dan Nasionalisme: Gus Dur dan Frans Seda

Ignas Kleden
http://majalah.tempointeraktif.com/

LAHIR dan mati adalah peristiwa harian. Tapi kematian dua orang pada akhir 2009 mendapat perhatian khusus karena bertepatan dengan penutupan tahun, dan karena yang wafat adalah dua tokoh seperti Gus Dur dan Frans Seda. Gus Dur wafat pada 30 Desember pukul 18.45, dan Frans Seda menyusul sehari sesudahnya, pukul 05.00. Keduanya berpulang sebagai pribadi yang penting dan menarik, sebagai pemimpin yang meninggalkan jejak, baik pemimpin golongannya maupun pemimpin berkaliber nasional.

CAHAYA DI UFUK KEJUANGAN

Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/

1.
Sebelum mengakhiri buku pengembaraan panjangnya di Bali, K’tut Tantri dalam “Revolt in Paradise” (Revolusi di Nusa Damai) menulis sebagai berikut : “Di atas kota, bintang-bintang memancarkan cahayanya yang gemerlapan, dan aku teringat akan sebuah kisah di masa bocah, yang mengatakan : Mereka yang ingin memperoleh ketenangan, haruslah berani meninggalkan kesenangan dan harta dunia, dan pergi berkelana mencari tempat bintang suci.

Kisah Sahabat Nabi: Abdullah bin Rawahah, Penyair Rasulullah

Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/

Waktu itu, Rasulullah sedang duduk di suatu dataran tinggi di kota Makkah, menyambut para utusan yang datang dari Yatsrib (Madinah) dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui kaum Quraisy. Mereka yang datang ini terdiri dari 12 orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan sebutan kaum Anshar (penolong Rasul).

Mereka akan berbaiat kepada Rasulullah, yang kelak disebut dengan Baiat Aqabah Ula (pertama). Merekalah pembawa dan penyiar Islam pertama ke Yatsrib. Dan baiat merekalah yang membuka jalan bagi hijrahnya Nabi beserta pengikut beliau, yang pada gilirannya membawa kemajuan bagi Islam. Salah seorang dari utusan yang dibaiat itu adalah Abdullah bin Rawahah.

Pengikut Sesat Sang Penyair

D. Dudu AR
http://nasional.kompas.com/

Puisi atau sajak adalah kumpulan larik, bait, syair yang ditulis dari renungan penyair. Pengalaman hidup seorang penyair dikontemplasikan sebagai bahan atau endapan yang kemudian ditulis dalam bentuk karya sastra puisi atau sajak. Banyak kata-kata indah, pilu, miris, berontak, dan gundah menghiasi puisi atau sajak. Tidak mudah mewujudkan kata-kata bermetafora dalam sebuah puisi, perlu proses dan perenungan untuk mengungkapkannya, sehingga menghasilkan puisi yang mapan, terutama bagi para pemula.

Menyelami Dunia Anak

Sinar Harapan 24/25 Okt 2009
Judul buku : Struktur Narasi Novel Karya Anak
Penulis : Dr. Suyatno, M.Pd.
Pengantar : Prof. Dr. Budi Darma
Penerbit : Jaring Pena (Lini Penerbitan JP BOOKS)
Cetakan pertama : Agustus 2009 :
Tebal : x + 278 halaman
Peresensi : Salamet Wahedi *

RUH DAN IDEOLOGI PUISI NUSANTARA

Maman S Mahayana *
http://mahayana-mahadewa.com/

Pembuka Kata

Perbincangan tentang “Ruh dan Ideologi Puisi Nusantara” ibarat pencarian jalan pulang dalam sebuah rimba-raya yang luas, penuh belukar, dan unik; khas. Perbincangan itu tidak sekadar upaya “menemukan” kembali masa lalu yang belum terang, mungkin agak gelap, dan boleh jadi juga sesat, tetapi punya posisi penting sebagai tindak meretas jalan ke depan yang lebih sesuai dengan jiwa dan karakteristik jati diri pemilik sah negeri ini. Dalam usaha itu, tentu diperlukan pendedahan berbagai jenis dan ragam pepohonan (puisi) yang tumbuh di sana, selain juga coba meneroka keberagaman dan kekhasannya, kekayaan dan kemungkinan perjumpaan dengan para penghuninya, dan sekaligus mencari jawab atas pertanyaan: mengapa pepohonan dan ragam tetumbuhan dengan segala semak-belukarnya itu bisa tumbuh subur di sana?

Puisi Sufi Nusantara dan Persia

Asarpin *
http://sastra-indonesia.com/

Pada masa lalu, selain muncul para ilmuwan, juga diramaikan oleh kehadiran kaum sufi. Kita dapat menelusuri dalam lembaran teks kesusastraan sufistik di dunia daratan India, Persia, Arab, dan Indonesia. Amir Hamzah dalam salah satu esainya di tahun 1930-an yang bertajuk Kesusasteraan, yang dimuat dalam buku Esai dan Prosa (Dian Rakyat, 1982), secara sangat memikat menelusuri kesusastraan sufi di belahan dunia: India, Tionghoa, Arab, Ajam, Indonesia. Kesusastraan Indonesia sendiri, kata Amir Hamzah, banyak dipengaruhi oleh kesusastraan tanah luar, seperti kebudayaan Hindu, Budha, dan Islam.

Djamal Tukimin Sosok Muslim dalam Dunia Sastra

Tiar Anwar Bachtiar
http://networkedblogs.com/h0ljN

Nama Djamal Tukimin di kalangan sastrawan dan peminat sastra di Asia Tenggara cukup dikenal baik. Dari namanya banyak yang mengira ia berasal dari Indonesia karena nama “Tukimin” di belakangnya adalah nama khas Jawa. Namun, Djamal sebetulnya lahir di Geylang Serai Singapura 20 Oktober 1946 lalu. Ia juga besar dan bersekolah di sana. Hingga saat ini ia tinggal di Singapura. Tukimin adalah nama ayahnya, orang Purworejo (Jawa Tengah) yang pada zaman Belanda merantau ke Singapura; dan Pak Djamal, begitu penulis biasa menyapanya, pun masih punya keluarga di Indonesia.

Pondok Pesantren, Santri, dan Islam Liberal di Indonesia

Anjrah Lelono Broto
http://buntetpesantren.org/

Selama ini, sebagian besar pendidikan di pondok pesantren di Indonesia menampakkan wajah yang terkesan tradisional, klasik serta apa adanya. Namun tidak dipungkiri dengan citra wajah yang muncul seperti itu, justru tidak lapuk dimakan zaman, bahkan ditengah gempuran arus globalisasi yang kian menggila dan hedonisme masyarakat yang kian meningkat, pesantren tetap mampu memikat sebagai komunitas masyarakat untuk tetap dijadikan sebagai tempat menuntut ilmu.

Islam KTP

KH. Salahuddin Wahid
jawapos, 16/09/10

Istilah di atas, yang sejak lama kita kenal, kini tidak banyak lagi digunakan. Yang disebut Islam KTP adalah orang yang di dalam KTP disebut beragama Islam, tetapi dianggap bukan pemeluk Islam yang taat karena tidak menjalankan ibadah ritual seperti salat, zakat, atau haji. Kalau mereka berpuasa dan berderma, mungkin tidak seluruh puasa dan derma itu sama dengan puasa dan zakat yang sesuai dengan syariat Islam. Terkesan istilah Islam KTP bermaksud menunjukkan bahwa mereka tampaknya Islam, tetapi bukan Islam yang sesungguhnya.

JIHAD ADALAH BERJUANG BUKAN PERANG

KH. Husein Muhammad
http://buntetpesantren.org/

Sejak gedung World Trade Center Amerika Serikat, 11 September 2001, hancur berkeping-keping, Jihad tiba-tiba mencuat kembali menjadi kosa kata paling populer di dunia abad ini. Pemerintah Amerika segera menerjemahkannya sebagai tindakan “terorisme”. Dengan langkah cepat mereka melakukan serangkaian pembalasan dengan melancarkan serangan dan pembunuhan atau ancaman pembunuhan ke wilayah-wilayah yang dianggap sebagai sarang teroris, antara lain Afghanistan dan beberapa negara di Timur Tengah.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com