Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

Kembali ke Religi

Nelson Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

BERKIBARNYA materialisme, rasionalisme, humanisme, ilmu pengetahuan berikut berbagai ideologi sekuler sejak penghujung abad XIX, sebagaimana ditulis Philip K Hitti dalam bukunya yang terkenal, History of the Arabs, mengakibatkan mundurnya aktivitas keagamaan atau sistem kepercayaan dalam bentuk praktik sufistik.

Sufisme dan Problem Gender

Mh Zaelani Tammaka
http://suaramerdeka.com/

GERAKAN sufisme (sebagai bagian dari dunia spiritualitas) ternyata memendam persoalan tersendiri dengan problem gender. Gerakan sufisme sering dianggap bersikap "seksisme" dan terlalu berpihak pada patriarkis, yaitu ideologi kekuasaan laki-laki atas inferioritas perempuan. Tuduhan tersebut memang bukan tak beralasan.

Selama ini, di kalangan kaum sufi tumbuh suatu anggapan, (kepemimpinan) spiritualitas adalah hak prerogatif laki-laki atau kaum pria. Lihatlah, sekian panjang daftar mursid (guru sufi) dalam sejarah sufisme adalah laki-laki. Kita nyaris kesulitan mencari nama mursid yang dari kalangan perempuan. Mitos ini semakin diperkukuh oleh satu pepatah Arab yang tumbuh di kalangan kaum sufi, thalib al-mawla mudzakar, yang berarti "pencari Tuhan adalah pria atau laki-laki".

Islam, Agama Populer atau Elitis?

Abdurrahman Wahid
Kompas, 6 Sep 2002

PADA tahun 1950-an dan 1960-an, di Mesir terjadi perdebatan sengit tentang bahasa dan sastra Arab, antara para eksponen modernisasi dan eksponen tradisionalisasi. Dr Thoha Husein, salah seorang tunanetra yang pernah menjabat menteri pendidikan dan pengajaran serta pelopor modernisasi, menganggap bahasa dan sastra Arab harus mengalami modernisasi, jika diinginkan ia dapat menjadi wahana bagi perubahan-perubahan sosial di zaman modern ini. Ia menganggap bahasa dan sastra Arab yang digunakan secara klise oleh sajak-sajak puja (al-madh) seperti bahasa yang digunakan dalam dziba'iyyah dan al-barzanji sebagai dekadensi bahasa yang justru akan memperkuat tradisionalisme dan menentang pembaruan. Dari pendapat ini dan dari tangan Dr Thoha Husein, lahir para pembaru sastra dan bahasa Arab yang kita kenal kini.

Doa Malam Ketujuh

Ahmad Zaini*
http://sastra-indonesia.com/

Kumandang lantunan doa bergema dari rumah Yasak. Suara ratusan orang yang berjejal di rumah berbahan dari bambu itu berebut khusuk menembus celah-selah dinding rumah yang sudah lapuk. Tangis isak serta linangan air mata terus mengalir dari para pelantun doa. Mereka sibuk mengusap air mata dengan ujung baju atau dengan sarung untuk menahan air mata bening yang terus mengalir. Doa-doa terus bergema diiring hembusan angin rawa yang menembus celah dinding-dinding rumah.

Acep Zamzam Noor, Akan Buat Dua Buku Kumpulan Puisi dan Esai

http://www.korankaltim.co.id/

Bagi penikmat seni di Indonesia, khususnya karya sastra tentu sudah mengenal, minimal tahu sosok Acep Zamzam Noor. Ya, sastrawan Indonesia yang pernah menerima anugrah penghargaan sastra level Asia Tenggara pada 2005 silam itu kini hadir di Lanjong Art Festival yang digelar di Gedung Aulia Sport, Tenggarong mulai 5 hingga 12 Februari mendatang.

Pada acara kesenian garapan Yaya-san Lanjong ini, Kang Acep begitu dia akrab disapa, selain menjadi juri lomba mewarnai dan membaca puisi, dia juga berbagi ilmu dan pengalaman dalam workshop yang membahas seni sastra.

Diksi Traumatik Acep Zamzam Noor

Beni Setia
http://cetak.kompas.com/

Struktur kumpulan puisi terakhir Acep Zamzam Noor, Menjadi Penyair Lagi, (Pustaka Azan, 2007), dibangun dua fondasi: “Ada yang Belum Kuucapkan” (AyBK), yang terdiri dari 53 sajak, dan “Menjadi Penyair Lagi” (MPL), yang terdiri dari 38 sajak. Bukanlah satu kebetulan bila kumpulan itu diawali dengan sajak “Setelah Mencintaimu” (dari AyBK) dan diakhiri sajak “Di Malioboro” (dari MPL) yang memang diletakkan di pengujung.

Acep Zamzam Noor: Pesantren Rusak karena Politik

Pewawancara: EH Ismail
Republika 12 Juli 2007

Akhir bulan lalu, tepatnya tanggal 28 Juni, sejumlah tokoh muda dari pesantren-pesantren yang ada di Jawa Tengah dan sekitarnya berkumpul di Gedung KNPI, Jakarta. Mereka menghadiri undangan Kantata Research Indonesia (KRI) yang menggelar seminar nasional bertema Mempertajam Kapasitas Pesantren sebagai Agen Pengelola Konflik. Seminar dilanjutkan dengan pelatihan Manajemen dan Resolusi Konflik Berbasis Pondok Pesantren untuk mengeksplorasi lebih jauh gagasan di atas.

KHAZANAH TENTANG DIAM

Hasnan Bachtiar
http://as-salafiyyah.blogspot.com/

DI ZAMAN ketika orang tidak bisa diam, diam itu penting! Koruptor tidak bisa diam, penjajah tidak bisa diam, pemabuk, pencopet, penjilat, politikus, pembohong, pembunuh, perampok, pemerkosa dan seluruh sisi kiri manusia memang tanpa diam. Tulisan ini akan mengajak pada salah satu khazanah tentang diam.

Bagaimana hakikat orang yang diam? Tidak berlaku dan berucap? Memang. Tapi secara psikis, apakah berhenti berpikir, enyah atau apatis, bahkan egosentris? Tidak juga. Diam bisa bermakna jalan tengah (moderatisme) yang jauh menyelam, melampaui kompleksitas fakta sosial yang kasat mata.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com