Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2011

Ibn Rusyd: Ilmuwan Haus Ilmu

Saifudin
http://insistnet.com/

Ibn Rusyd memang seorang ulama besar. Ia dikenal sebagai ahli fikih, ushul fikih, filsafat, falak, politik, kedokteran, ilmu jiwa, dan ilmu alam. Hidupnya diisi dengan mencari ilmu dan berkarya menulis buku tiada henti. Ulama asal Andalus (Spanyol) ini di Barat dikenal dengan sebutan Averroes. Pengaruhnya diakui ilmuwan Muslim, Yahudi dan Nasrani. (Muhammad Syahatah Rabi’, al-Turats al-Nafsi ‘inda Ulamâ al-Muslimîn, (Iskandariyah: Dâr al-Ma’rifah al-Jâmi’iyah, 1998), hal. 523).

KISASU L-ANBIYA AND FUSUS AL HIKAM: A Comparative Study

KISAH PARA NABI dan FUSUS AL-HIKAM – Satu Kajian Perbandingan
Turita Indah Setyani *
http://fakirabdillah.blogspot.com/

Latar Belakang

Sastra Melayu sepanjang kehidupannya banyak dipengaruhi oleh agama Islam. Hal itu telah dibicarakan sejak tahun 1977 hingga saat ini. Sejak bulan Juli 1977 hal itu menjadi perbincangan yang hangat di Malaysia, yaitu ketika Shahnon Ahmad menerbitkan makalahnya “Sastra Islam” di dalam Majalah Dewan Bahasa, Kuala Lumpur. Dan Majalah Dewan Sastra (Agustus 1977) pun mengadakan “Forum Sastra Islam”. Hari Sastra 78 di Kuala Trengganu juga membicarakan secara khusus kesusastraan Melayu dengan Islam.

Ibnu Sina (980-1037)

http://zulfadli088.multiply.com/

Nama lengkap beliau adalah Abu Ali al Husain ibn Abdullah ibn Sina dan lebih dikenal di masyarakat Eropa dengan sebutan “Avicenna”. Nama panggilan lain beliau selain Ibnu Sina adalah Abu Ali. Beliau adalah salah seorang jenius yang mahir dalam berbagai cabang ilmu. Beliaulah pembuat ensiklopedia terkemuka dan pakar dalam bidang agama, kedokteran, filsafat, logika, matematika, astronomi dan musik. Selain itu beliau juga seorang pustakawan dan psikiater yang handal. Ibnu sina dilahirkan di Afsyinah, sebuah desa yang terletak dekat Bukhara (Republik Uzbekistan) tahun 370 H/ 980 M.

Ilmu Ladunni itu Hanya Bagi Mereka Yang Suci

Dr. Yunasril Ali *
http://www.sufinews.com/

Sebagai makhluk yang serba ingin tahu, tiap manusia tentunya akan selalu berburu pengetahuan. Jika  pengetahuan itu umumnya diperoleh melalui proses belajar, maka ada pula yang diperoleh melalui ilmu ladunni. Menurut Dr. Yunasril Ali, dosen  yang relatif familiar dengan pandangan-pandangan tasawuf al-Ghazali dan Ibnu Arabi ini,  mereka yang senantiasa menjaga kesucian hatinya  boleh jadi akan mendapat limpahan pengetahuan langsung dari Allah. Jenis pengetahuan inilah yang ia maksudkan dengan ilmu ladunni. Berikut petikan wawancara Cahaya Sufi dengan  pengamal tasawuf yang  beberapa tahun lalu justru pernah mengecam ilmu ladunni ini.

Kritik Atas Kritik Sastra Pra Islam

Ahmad Hadidul Fahmi
http://lakpesdam.numesir.com/

Theodor Nôldeke dalam bukunya Min Tarikh wa Naqd al-Syi’r al-Qadîm berujar, bahwa menentukan ‘batas akhir’ (nihâyah) sastra pra-Islam lebih mudah dari menentukan awal kemunculannya (bidâyah). Benarlah apa kata Nôldeke, menelusuri akar genealogis sastra pra-Islam merupakan permasalahan yang memunculkan perdebatan sengit diantara peminat kajian sastra. Ia disebut-sebut tak ditemukan akar kemunculannya. Faktornya pun beragam. Sebut saja, penelusuran terhadap transmisi sastra pra-Islam hanya berujung pada riwayâh syafawiyyah (dari mulut ke mulut), dan tak didasarkan pada kualifikasi yang jelas. Satu sampel, kodifikasi sastra pra-Islam berbeda sepenuhnya dengan kodifikasi hadis.

Puisi Doa sebagai Tes bagi Otentisitas

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Puisi pada dasarnya mengandung doa. Bahkan ada puisi doa. Jika kita bersua dengan puisi sejenis doa, maka jangan pernah menganggapnya remeh. Tak hanya puisi mantra yang baik, tapi puisi doa pun bisa sangat baik. Tapi soalnya adalah: tak banyak sajak doa yang baik di Indonesia. Padahal sajak berisi doa bisa digunakan untuk dipakai berdoa kepada Tuhan ketimbang doa-doa syariat yang selama ini sudah akrab digunakan.

Nalar Dekonstruktif Teosof Islam

Nova Burhanuddin
http://lakpesdam.numesir.com/

Siapa yang mendaku tahu bahwa Allah-lah Sang Penciptanya, tanpa merasa bingung, maka itulah bukti kebodohannya.
(Ibn ‘Arabi dalam al-Futûhât al-Makkiyyah)

I

Landasan awal yang bisa kita pijak dalam kaitan antara dekonstruksi dan teosofi adalah bahwa teks adalah tajalli (“penampakan”, representasi) dari Tuhan. Para teosof berkesimpulan bahwa ada kaitan yang erat antara makhluk dengan Sang Khalik. Kaitan erat ini termanifestasi dalam konsep bahwa alam semesta, beserta seluruh isinya dan apa saja yang berkaitan dengannya, tak lain adalah tajalli dari Allah. Kesimpulan semacam ini tak hanya dihasilkan dari sudut pandang teosofis.

Dampak Pengakuan Keislaman Cheng Ho

AM Adhy Trisnanto
http://www.suaramerdeka.com/

Islam tidak akan berkurang derajatnya, meskipun ada peran orang-orang China di dalamnya. Di sini orang lupa bahwa keislaman China lebih tua ketimbang Jawa. Orang-orang China telah mengenal Islam di saat masyarakat Jawa hidup dalam dunia berhala dan klenik. (Soemanto Al Qurtuby dalam Seminar Membincang Kontribusi Tionghoa dalam Proses Islamisasi di Indonesia, 19 Maret 2005).

Sinopsis Manuskrip Teks Syair Kanjeng Nabi

Agus Sulton
http://sastra-indonesia.com/

Naskah Syair Kanjeng Nabi (SKN) adalah naskah pegon yang tersimpan sebagai koleksi pribadi oleh Agus Sulton. Naskah ini ditulis dalam bentuk syair, kemudian dilakukan proses transliterasi ke dalam huruf Latin dan dilakukan suntingan teks berdasarkan cara kerja filologi. Menurut Edwar Djamaris (2002: 9) tujuan penelitian filologi adalah unutk mentransliterasi teks dengan tugas utama menjaga keaslian penulisan kata/arti, menyunting teks dengan sebaik-baiknya, dan mendeskripsikan kedudukan dan fungsi naskah. Dalam hal ini, menyangkut manfaat, jenis dari karya karya, dan apa fungsi naskah tersebut, sehingga teks merupakan prioritas utama sebagai dasar untuk melakukan analisis.

Bukti Ilmiah Kakbah Pusat Dunia

Judul : Ka’bah Pusat Dunia, Sebuah Mukjizat Ilmiah
Penulis : Saad Muhamad Al-Marsafy
Penerjemah : Iwan Nurdaya-Djafar
Penerbit : llagaligo Publisher, Bandar Lampung
Cetakan : I, 2011
Tebal : xxiii + 113 Halaman
Peresensi : M. Hadi Bashori *
http://www.lampungpost.com/

Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000.*

Yang meloloskan pengertian “Kun Fayakun” dirombak ke dalam bahasa Indonesia membentuk makna; “Jadi, lantas jadilah!” dan “Jadi maka jadilah!”
Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Awalnya masih menaruh pikiran positif. Di kepala seakan tertera kata-kata, “pasti pidatonya mbeneh, bukan awut-awutan,” nyata tebakan itu meleset. Pun ingin husnudzon, mungkin tak tahu sumber aslinya. Namun apakah mungkin, sastrawan terkenal yang banyak mendapati penghargaan, cuntel keilmuan?

Agus Sunyoto: Pesantren Jaga Identitas Bangsa

http://www.nu.or.id/

Budayawan dan sejarawan Agus Sunyoto berharap komunitas yang berbasis pada pesantren perlu dijaga eksistensinya agar tidak tergerus oleh kejamnya zaman. Hal ini lantaran “pesantren sejak lama telah menjaga identitas bangsa Indonesia,” katanya.

Ia berharap agar kontinuitas berkarya dan sosialisasi oleh berbagai komunitas ini ke pesantren-pesantren di pelosok negeri ini terus dikembangkan dalam rangka menjaga eksistensi lembaga pendidikan dan kebudayaan tertua di nusantara ini.

Kalau mau Bersastra Jadilah Orang NU

http://www.wahidinstitute.org/

Tidak terasa tiga hari sudah mengikuti acara Liburan Sastra di Pesantren yang digelar Komunitas Matapena, Yogyakarta. Namun puluhan peserta acara, yang terdiri dari pegiat seni di pesantren dan umum, tetap bersemangat.

Salah satu sebabnya, acara yang yang berisi pelatihan menulis kreatif dan mengapresiasi sastra ini digelar di Pesantren Kali Opak LKiS Jogjakarta. Lokasinya persis di pinggiran Kali Opak yang memanjang di kawasan Timur Jogja.

HUBUNGAN INTELEKTUAL KEAGAMAAN

ANTARA TIMUR TENGAH DAN NUSANTARA PADA ABAD XVII
Ahmad Syauqi Sumbawi *
http://sastra-indonesia.com/

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara geografis, Nusantara merupakan wilayah yang terdiri dari kumpulan pulau-pulau yang terbuka oleh laut, yang mana sejak zaman kuno, wilayah ini menjadi tempat persilangan jaringan lalu-lintas dunia Timur dengan dunia Barat. Pada masa ini, navigasi dengan teknologi kapal layar mula-mula terutama menempuh jalur menyusuri pantai.

Teks dan Tafsir

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Dari hari ke hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun, kita mengalami perubahan cara memandang apa yang disebut teks dan tafsir, entah itu teks puisi atau teks Kitab Suci. Bahkan apa yang dinamakan realitas dan sejarah di hari-hari telah mengalami sebuah proses yang tak selesai. Demikian pula apa yang kita namakan syair, ternyata tak lebih sebagai takwil. Sementara pemahaman kita terhadap pengarang, teks, dan pembaca, kerap kali berputar-putar tak tentu tuju.

Menghidupkan Nalar Beragama

K. Muhamad Hakiki *
http://www.lampungpost.com/

DALAM sebuah seminar internasional di Jerman yang diselenggarakan Friedrich Naumann Foundation (FNF) tentang agama dan pendidikan pertengahan Maret 2010, beberapa utusan dari negara-negara bekas Uni Soviet mengusulkan sebaiknya agama masuk kurikulum pendidikan.

RAGAM MANUSKRIP: STUDI MAKNA DAN FUNGSI TEKS SYAIR KANJENG NABI

Agus Sulton
http://sastra-indonesia.com/

Keberagaman isi dari naskah-naskah Nusantara tersebut bisa dijadikan sumber yang otentik dengan merekontruksi situasi dan kondisi yang ada pada peristiwa masa lampau untuk dijadikan jembatan penghubung bagi pemikiran masa kini. Dalam hal ini, naskah lama merupakan dokumen kebudayaan yang merekam berbagai data dan informasi tentang kesejarahan dan kebudayaan daerah yang juga sarat dengan nilai-nilai kehidupan manusia.

Antara Ali Syariati & Pram

Dudi Rustandi
http://www.sunangunungdjati.com/

Hampir tak dapat dipungkiri bahwa titik tolak pencerahan dan gelisah hidupku tak dapat dipisahkan dari pengaruh kedua tokoh yang berbeda secara geografis seperti disebut pada judul; Syariati dan Pram, kedua tokoh tersebut dapat dikatakan merupakan satu generasi walau berbeda tempat pijakan, ia sama-sama berada pada satu ruang yang sama dalam memperjuangkan bangsanya masing-masing; berjuang melalui tulisan.

HUKUM ISLAM PADA MASA TABI’IN

Faksionalisme antara Kelompok Rasionalis (Ahlu al-Ra’yi) dan Kelompok Tradisionalis (Ahlu al-Hadits)
Ahmad Syauqi Sumbawi *
http://sastra-indonesia.com/

A. Pendahuluan

Tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat kaitan langsung antara Islam sebagai doktrin agama dan juga sebagai hukum. Meskipun kegiatan legislasi Nabi Saw baru dilakukan setelah tinggal dan menetap di Madinah Nabi, namun ketentuan-ketentuan yang bersifat legalistik atau kehukuman telah ada sejak berada di Makkah. Bahkan dasar-dasarnya telah diletakkan dengan kokoh pada periode ini.

Sekularisme Religius sebagai Kritik

–Sekularisme sebagai Kritik–
Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Kawan, perdebatan tentang apa yang disebut sekular dan sekularisasi—ada yang menulis sekuler dan sekularisasi—memang belum memperlihatkan tanda-tanda melelahkan. Padahal kurang apa kerasnya polemik yang pernah terjadi antara kelompok Bung Karno-Bung Hatta dengan kelompok Natsir-Hamka–Siradjudin Abbas—A.Hasan tentang soal ini. Kedua polemik ini memiliki pengikut, dengan corak dan gayanya masing-masing.

Pergolakan Iman Seorang Atheis

Musyafak
http://suaramerdeka.com/

PERGULATAN spiritualitas manusia rentan terseret ke medan yang sarat tegangan. Ikhtiar mengukuhi iman acap jatuh ke lorong kegelapan jiwa. Fase kegelapan itulah yang justru potensial membukakan pintu pertobatan: fase kepasrahan diri setelah rampungnya babak pemberontakan yang melelahkan.

DAMPAK LICENTIA POETICA BERNAMA “KREDO PUISI” TERHADAP EKSISTENSI BAHASA

Hadi Napster
http://sastra-indonesia.com/

Pada tanggal 02 Oktober 2011 yang lalu, tepatnya pukul 20:08 WIB, di Grup Komunitas Bengkel Puisi Swadaya Mandiri (BPSM), terjadi satu interaksi sangat menarik dengan tema pembahasan “licentia poetica” dalam sebuah diskusi yang diawali oleh posting Dimas Arika Mihardja (DAM) melalui tulisan:

N Y E K A R

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

Ibu ingin nyekar. Keinginan itu disampaikannya berulang-ulang. Ibu ingin seperti umumnya warga di kampung kami. Bersiap jelang bulan suci Ramadhan dengan nyekar. Tradisi yang biasanya dirangkai dengan besik atau bersih-bersih makam itu diakhiri dengan berdoa, mendoakan arwah yang dikubur. Berikut moyang-moyang terdahulu. Ibu juga ingin kembali nyekar, lusa, usai sembahyang Ied di masjid kampung. Kebetulan, sarean atau pemakaman umum utama kampung kami terletak persis di samping masjid.

Demitologisasi Sastra Mantra Sutardji

Hasnan Bachtiar
http://kataitukata.wordpress.com/

Dewasa ini telah mengemuka suatu mitos sastra (Barthes). Para kritikus, seolah bahu-membahu dalam konsensus imajiner, mengimani suatu mazhab yang mutakhir. Sastrawan “mantra” menjadi imam bagi mayoritas umat: Sutardji Calzoum Bachri (SCB).

Peran Hegemonik Sains atas Agama

Wa Ode Zainab Zilullah Toresano
Kompas, 28 Juni 2009

SEBAGIAN kalangan mengklaim, eksistensi agama telah terancam, keberadaannya terisolasi seiring dengan perambahan peran hegemonik sains yang dibarengi sekularisasi.

Sekularisme berdampak penempatan agama yang terlihat berbeda dari sains. Relasi keduanya seolah mustahil bisa dirujukkan.

Sisi Nasionalis Natsir

Yudi Latif
Kompas, 16 Juli 2008

ADA saatnya kepentingan dan ideologi sektoral berhenti ketika kepentingan nasional yang lebih besar harus dimulai.

Dalam mosi integralnya di depan parlemen Republik Indonesia Serikat (RIS), Mohammad Natsir berkata, ”Hanya dengan mengambil inisiatif kembali, yang telah dilepaskan oleh pemerintah selama ini, dapat diharapkan bahwa pemerintah terlepas dari posisi defensifnya seperti sekarang.

Menguak Tabir Siti Jenar

Judul : Syekh Siti Jenar: Mengungkap Misteri dan Rahasia Kehidupan
Penulis : Mohammad Zazuli
Penerbit : Serambi, Jakarta
Tahun : I, Februari 2011
Tebal : 220 halaman
Peresensi : Muhammad Itsbatun Najih*
http://gp-ansor.org/30494-29102011.html

Warisan Gus Dur

Jaya Suprana *
http://cetak.kompas.com/

Gus Dur telah tiada. Terlalu banyak kenangan dan pelajaran yang saya peroleh dari sahabat dan mahaguru yang sangat saya hormati, kagumi, dan cintai itu. Dari Gus Dur, saya mewarisi wawasan kearifan mengenai makna kenegaraan, keagamaan, dan kemanusiaan dalam hakikat yang murni dan sejati.

Hamka: Kursi MUI dan Filsafat Bika

Marjohan
http://harianhaluan.com/

Siapa tak kenal Hamka! Tak cuma dikenal sebagai buda­yawan, sastrawan, pujangga dan sejarawan. Lebih dari itu, beliau adalah ulama besar, terpandang, kaya harga diri dan bertahta di hati umat hingga kini. Begitu tersematnya tokoh yang lahir pada 17 Februari 1908—bertepatan dengan tahun Ke­bang­kitan Nasional Indonesia ini, tidak saja pada kaum kulturalis, tapi juga elite struk­turalis—tak heran pada Juni 1975, pengarang novel Tengge­lamnya Kapal Van Der Wijck (1937) itu, ditawari oleh Menteri Agama RI—yang kala itu dibiduki Prof. Dr. Mukti Ali untuk menggenggam jaba­tan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Reaksi Hamka?

Sejarah Pangeran Diponegoro Ditulis Sejarawan Inggris

___Suara Pembaruan
17 Desember 2007

SEJARAH terkemuka Inggris Peter Carey menilai Pangeran Diponegoro merupakan sosok pahlawan nasional Indonesia yang unik. Atas dasar itu, sang pangeran adalah penganut kebatinan seperti kebanyakan orang Jawa waktu itu, tapi dia juga sekaligus muslim yang saleh. Sejarah juga mencatatnya sebagai seorang pemimpin perang sabil yang gigih melawan Belanda pada 1825-1830.

Haji Misbach: Muslim Komunis

Sumber : Tabloid Pembebasan Edisi V/Thn II/Februari 2003
Kontributor : Dewan Redaksi Tabloid Pembebasan, Januari 2004
Versi Online : Indomarxist.Net, 3 Februari 2004

Haji Misbach memiliki posisi yang unik dalam sejarah di Tanah Air. Namanya sedahsyat Semaun, Tan Malaka, atau golongan kiri lainnya. Di kalangan gerakan Islam, memang namanya nyaris tak pernah disebut lantaran pahamnya yang beraliran komunis. Menurut Misbach, Islam dan komunisme tidak selalu harus dipertentangkan, Islam seharusnya menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan.

Priayi yang Menikung Jalan

Muhammad Yuanda Zara
http://majalah.tempointeraktif.com/

Manusia Ulang-alik: Biografi Umar Kayam Penulis: Ahmad Nashih Luthfi Penerbit: Eja Publisher, Yogyakarta, April 2007 Tebal: xxvii + 186 halaman

Inilah buku yang menarik dibaca. Manusia Ulang-alik: Biografi Umar Kayam tidak kering, juga tidak romantik-sebagaimana umumnya buku biografi di sini. Ia memberikan gambaran umum sekaligus kejutan-kejutan detail dalam pembahasan yang obyektif.

Laku Etik dan Estetik Dalam Watak Kepenyairan

Damhuri Muhammad*
Pikiran Rakyat, 23 Juni 2007

SEJAK akhir Juli hingga pertengahan Agustus 2004 silam, sejumlah koran riuh oleh polemik menyoal diluncurkannya buku kumpulan puisi Kuda Ranjang, karya Binhad Nurrohmat. Tak kurang dari 15 esai telah menimbang buku itu.

Banyak yang memuji kepiawaian Binhad mengurai tubuh perempuan dalam bait sajak, banyak pula yang menghujat, bahkan ada yang terang-terangan menyeringai: “Menjijikkan membaca puisimu.” Tapi, Binhad tak kunjung jera menuai cela, penyair itu baru saja melepas antologi puisi terbaru, Bau Betina (2007). Setali tiga uang dengan Kuda Ranjang, lewat Bau Betina ia masih latah bergunjing perihal “dunia basah”, “dunia tengah”, (tapi diburu banyak watak).

Ingatan Yang (Di)lupa

Salamet Wahedi
Jawa Pos, 11 sep 2011, judul “ingatan di sini, kekuasaan di sana”

Dalam bukunya, The Book of Laughter and Forgetting (1978), Kundera, pengarang Ceko yang tinggal di Paris, menuliskan paragraf terkenal: kini tahun 1971, dan Mirek mengatakan bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa. Berpuluh tahun lamanya, ungkapan ini hanya sebagai ‘kata lain’ dari berbagai peristiwa kekuasaan yang tak pernah mengindahkan maksud dan tujuan awalnya. Bahkan, meminjam istilah ini, era reformasi yang didengungkan 1998 pun hanya sebatas usaha melawan kelupaan orde baru terhadap nilai-nilai UUD 1945 dan Pancasila yang dihambur-hamburkan. Lalu apa hubungan lupa dan kuasa? Kok seolah-olah keduanya memiliki kaitan yang kuat?

Terompah Kyai

Ahmad Zaini *
http://sastra-indonesia.com/

Hening malam itu seketika buyar ketika detak-detak suara terompah kiai bergelombang membahana di setiap sudut lokasi pesantren. Alas kaki kiai menggerus jalan beraspal menuju tempat beribadah laksana derap kaki kuda yang menerjang medan perang tuk membasmi musuh-musuh. Detak-detak suara terompah kiai semakin cepat memecah keheningan akhir malam yang berudara dingin karena ingin segera sampai ke musholla. Di musholla itu kiai sudah ditunggu ratusan santrinya.

Sastrawan Jawa Timur: Peta Kebangkitan Jaman

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Jawa Timur yang luasnya sekitar157.922 kilo meter persegi, dengan jumlah penduduk 36.294.280 merupakan wilayah fenomenik. Berbagai kajian keilmuan tak pernah sepi mengangkat Jawa Timur sebagai topik utama.

Dari sudut sastra, para esais sastra sedang gencar mengupas perihal tarik-ulur eksistensi kesusastraan yang pada akhirnya menguatkan titik fokus jati diri Jawa Timur sebagai wilayah kesusastraan tersendiri di Indonesia, wilayah yang tak lagi menjadikan Jakarta dan Melayu sebagai pusat imperium kesusasteraan.

Surau dan Kerisauan Orang Minang

Nelson Alwi*
Suara Karya, 20 Sep 2008

EKSISTENSI atau pun sumbangsih surau bagi keselarasan (ke)hidup(an) sosial-keagamaan masyarakat Minang, tak bakalan tergerus dari ingatan. Ya, surau pernah berperan besar lagi sangat signifikan sekali. Selain sebagai tempat beribadah, surau berfungsi menampung kakek-kakek uzur tiada berdaya, para duda, musafir atau anak dagang, apalagi anak-anak serta remaja yang hendak menuntut ilmu: dunia dan akhirat.

Harga Diri Peradaban Literasi

Sartika Dian Nuraini
http://www.majalahbasis.com/

Negara itu manis di bibir, tapi pahit di kenyataan. Sungguh tak terbayangkan, betapa tega Negara melakukan pemangkasan dana subsidi pada PDS HB Jassin hingga menderita sakit dan miskin.

Pengabaian ini menyebabkan dokumentasi sas­tra di ambang kebangkrutan. Penguasa ti­dak mampu atau bahkan cuek mem­baca seja­rah dan etos sastra yang telah ditunjukkan oleh HB Jassin selama pu­luhan tahun. Jangan-jangan, negara itu ada cuma mau urusan-urusan pragmatis. Buku, sastra, dan perpustakaan mungkin tak dianggap punya arti. Padahal tradisi buku atau literasi adalah pondasi peradaban bangsa yang ingin punya harga diri dan sadar perubahan zaman.

ISLAM DI JAWA

Mh Zaelani Tammaka
http://kotasendeng.blogspot.com/

Alkisah, seorang dewa Hindu, Wisnu didorong oleh keinginannya yang besar untuk mencari titik temu antara ajaran Hindu dan Islam, rela menempuh perjalanan jauh, dengan mengarungi lautan dan daratan, untuk datang ke negeri Rum (Turki), salah satu pusat negeri Islam, yang kala itu dalam penguasaah Daulah Usmaniyah.

Mata Air dan Kitab Kearifan

Mustofa W Hasyim*
http://www.suaramerdeka.com/

SUATU hari, masih pada zaman Orde Baru, saya bersama seorang teman berburu naskah ke Salatiga. Ketemu dengan para pendekar pemikir bebas seperti Arief Budiman, Ariel Heryanto, dan George Yunus Adicondro yang waktu itu kaca rumahnya baru saja ditembak orang sehingga pecah berantakan. Seharian bertemu dengan tiga tokoh itu, ngobrol dan mencari kemungkinan-kemungkinan masa depan Indonesia yang makin menyesakkan nafas. Waktu itu saya mencoba mengetes bagaimana persepsi atau kesan tiga tokoh Salatiga itu terhadap pribadi Pak Kuntowijoyo. Kami bilang, karya beliau juga telah kami terbitkan. Reaksi ketiga pakar hampir sama. Semua langsung khusyuk, hormat, kehilangan sifat ”badungnya”, begitu mendengar nama beliau disebut.

(Sekali Lagi) Membincang (tentang) ”Sastra Pesantren”

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

”Kalau ada sastrawan kita yang merasa terpanggil untuk menggarap kehidupan pesantren sebagai objek sastra nantinya, terlebih dahulu harus diyakininya persoalan-persoalan dramatis yang akan dikemukakannya. Tanpa penguasaan penuh, hasilnya hanyalah akan berisi kedangkalan pandangan belaka” (Abdurrahman Wahid, 2001)

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com