Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2012

Problematik Kesenian Jombang

Fahrudin Nasrulloh*
http://sastra-indonesia.com/

Pada hakikatnya warisan tradisi merupakan hasil proses kesejarahan manusia yang panjang bercecabang dan karenanya tak gampang dilacak jejaknya. Ikhtiar pengembangan yang kita butuhkan adalah seberapa jauh dan telaten pegiat kesenian atau seniman itu sendiri dapat memahami kesenian, tidak hanya pada tataran sekadar mencermati, namun proses “melakoni” yang berlandaskan “daya telisik” dan bukti konkrit serta keterlibatannya agar dapat terus ditumbuhkan dan disadari sebagai sebuah cermin berkehidupan yang berkebudayaan. Pendek ungkap, khasanah tradisi adalah sebentang perjalanan di mana manusia dan kebudayaannya “mengada” dan “menghayat” di dalam kehidupan sehari-hari.

WALIYULLAH MBAH KYAI DALHAR WATUCONGOL

Muhammad Wava Al-Hasani
__Al-Kahfi Islamic Boarding School

Ketika penulis melihat – lihat di internet, penulis banyak menemui tulisan – tulisan yang mengenang tentang sosok figure salah seorang kakek buyut penulis yaitu Mbah Kyai Dalhar, Watucongol. Begitu masyarakat luas akrab memanggilnya. Penulis berterima kasih pada para pecinta beliau yang telah berkenan merekam sebagian dari jejak – jejak manaqibnya, sekalipun tulisan – tulisan tersebut nampaknya masih belum mengemukakan syakhsiyahnya secara utuh.

Sejarah darussalam (Pondok Pesantren Darussalam, Ciamis)

Pondok Pesantren Darussalam didirikan pada tahun 1929 oleh Kyai Ahmad Fadlil (al-marhum) di atas sebidang tanah wakaf dari suami isteri Mas Astapradja dan Siti Hasanah. Pesantren ini terletak di sebuah desa, tepatnya di Desa Dewasari Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis jawa Barat. Pada saat didirikannya, pesantren ini baru memiliki sebuah rumah tempat tinggal kiai, sebuah mesjid dan sebuah asrama (pondok) yang sangat sederhana.

Dubes Jepang Kunjungi Pontren Darussalam Ciamis

http://www.pikiran-rakyat.com/node/139696

Duta Besar Jepang untuk Republik Indonesia, Mr. Kojiro Shiojiri menyatakan, terjadinya bencana alam gempa yang disusul dengan gelombang pasang tsunami tidak berpengaruh terhadap kerjasama bidang pendidikan. Dengan demikian program yang direncanakan tetap berlangsung sebagaimana mestinya.

‘’Memang kami dilanda bencana alam gempa dan tsunami, akan tetapi hal tersebut tidak begitu mempengaruhi kerjasama bidang pendidikan. Sektor pendidikan tetap harus mendapatkan perhatian,’’ ungkapnya, saat melakukan kunjungan di Pondok Pesantren Darussalam Kabupaten Ciamis, Senin (28/3).

KH. Irfan Hielmy, Ulama Besar Teladan dari Ponpes Darussalam Ciamis

http://www.ciamismanis.com/

KH. Irfan Hielmy lahir di Ciamis, 25 Desember 1933 dan dikenal sebagai kiai moderat yang teguh memegang prinsip dan selalu menekankan kepada para santrinya untuk menuntut ilmu, dimana saja, dari siapa saja agar memiliki wawasan yang luas. Sesepuh Kabupaten Ciamis yang juga pengasuh Ponpes Darussalam Desa Dewasari Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis ini wafat 18 Mei 2010 pukul 06.15 WIB pada usia 79 tahun.

PESANTREN DARUSSALAM CIAMIS, BERMULA DARI KESEDERHANAAN

Diposting oleh KH. Irfan Hielmy

Bila kita telusuri jalan utama kota Ciamis - Jawa Barat menuju arah timur, hingga ke luar kota Ciamis, di sana banyak terdapat pondok pesantren. Sejalan dengan pertumbuhan kota Ciamis, seolah tak mau ketinggalan dengan perkembangan modernisasi, banyak pondok pesantren berbenah diri.

Tak jauh dari jalan utama, persisnya di desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Jl. K.H. Ahmad Fadlil I, Kota CIamis, dapat kita jumpai Pondok Pesantren Darussalam yang megah dan selalu menjadi pilihan para orang tua yang menginginkan anaknya sekolah di lembaga pendidikan agama.

Pesantren Darussalam Menuju Pesantren Berkualitas Internasional

Pondok Pesantren Darussalam Ciamis - Jawa Barat
www.republika.co.id

Demi mewujudkannya, mulai tahun ajaran 2008/2009 pesantren mengadopsi konsep sekolah sehari penuh (full day school) dan mengubah metode pengajaran pada kurikulum berbasis kompetensi (KBK).

Memasuki lingkungan Pesantren Modern Darussalam di Desa Pamalayan Kec Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, udara sejuk langsung menyergap. Pepohonan rindang memayungi pesantren tertua di Ciamis itu, yang kini menjadi salah satu “supermarket” pendidikan Islam terlengkap di kabupaten itu.

Sejarah Pesantren Darussalam Ciamis

Indra Kurniawan
http://fdj-indrakurniawan.blogspot.com/

Ihwal kebersahajaan dan kesederhanaan Pesantren Darussalam ternyata sama tuanya dengan sejarah pesantren ini. Nun di paruh 1929, Kiai Haji Ahmad Fadlil (meninggal tahun 1950), ayahanda K.H. Irfan Hielmy, memulai kisah kebersahajaan dengan sebuah masjid dan sebuah bilik sebagai asrama. Santri yang pertama kali mondok adalah pemuda-pemuda setempat yang tidak saja diajari ilmu-ilmu agama tetapi diajak mengolah sawah, bercocok tanam, dan diberi contoh bagaimana memelihara bilik dan memakmurkan masjid. Pesantren Tjidewa, sebutan untuk komunitas baru itu, dengan cepat mendapat simpati serta dukungan dari masyarakat sekitar lebih banyak lagi santri yang mondok.

Negeri pegawai negeri

Bandung Mawardi *
http://www.solopos.com/

Pujangga kondang Ranggawarsita pernah menggubah Serat Jayengbaya (1826) sebagai refleksi atas pekerjaan dan makna manusia. Sang pujangga menuliskan tembang sejumlah 250 bait untuk menguak segala jenis pekerjaan dalam masyarakat Jawa, mengisahkan ambisi dan arogansi manusia, menghadirkan filosofi penggapaian berkah dalam hidup.
Manusia memiliki kemenduaan dalam melakoni kerja, ingin senang tapi enggan menanggung risiko. Jabatan, uang dan popularitas jadi impian tapi melupakan makna kesejatian hidup manusia dalam kerja.

Mencatat Ibu

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

Membincang ibu sebagai seorang sosok, bak mengurai satu-satu sulur dunia. Nyaris tak ada titik henti, sekaligus karena sosok ibu ibarat titik asal mula kemunculan nama-nama. Sehingga, mencatat sesosok ibu dalam sebuah tulisan serasa hampir mustahil selesai karena ibu adalah puspa indah taman hati, sumber cinta sepanjang masa.

Membaca Pemikiran Terbaik Cak Nur

Hotnida Novita Sary*
http://www.sinarharapan.co.id/

Penampilannya sederhana. Ia senang berkemeja lengan pendek. Cita-cita masa kecilnya menjadi seorang masinis kereta api. Keyakinan bahwa kebenaran memiliki kekuatannya sendiri untuk membela begitu kuat terpancar dalam setiap pemikiran dan sikapnya.

Rangkaian kalimat itu menjadi awal pengenalan penulis tentang tokoh ini kepada pembaca buku. Nurcholish Madjid—yang diinterpretasikan dalam buku ini sebagai Sang Begawan terkesan bersahaja. Begitu singkat, tetapi mendalam sekaligus menggugah rasa penasaran untuk menggali lebih dalam “wasiat” yang diwariskannya untuk generasi muda.

Religius Islam dalam Sastra Sunda

Djasepudin *
Pikiran Rakyat, 02 Juli 2005

MANTAN Rektor IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Rachmat Djatnika berbicara bahwa, sebelum agama Islam datang ke tatar Sunda, orang Sunda telah memiliki budaya, yang menjadi adat-istiadatnya. Gambaran ajaran dan budaya Sunda itu dapat dilihat dari pepatah-petitih, nasihat-nasihat, yang biasa didendangkan oleh anak-anak atau para remaja, yang merupakan hasil gubahan para bujangga Sunda.

Perlunya Dekonstruksi dan Kritik Akal Islam

Mujtahid*
http://blog.uin-malang.ac.id/

THOMAS Kuhn, dalam bukunya yang terkenal The Structure of Scientific Reconstruction, pertama kali mempopulerkan makna ‘paradigma’ di dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan praktek atau tingkah laku manusia di dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian ‘paradigma’ begitu luas yang memainkan peran penting, dalam apa yang dimaksud Kuhn sebagai “revolusi ilmiah”. Paradigma juga telah digunakan oleh ahli-ahli ilmu tingkah laku (behavioral sciences).

Pluralisme, Persuasi, Ndeso

Intelektuil “Ndeso“ Emha Ainun Nadjib
Riyadhus Shalihin
http://www.kompasiana.com/Riyadh

Emha, Sosok Islam Berbudaya
Emha adalah salah seorang pribadi yang cukup unik juga eksentrik, dapat kita ketahui dengan baik dalam perilakunya di seputar wilayah keagamaan maupun dalam wilayah kesenimanannya, Emha adalah salah satu tokoh yang mempunyai separuh mata pendakwah dan separuh mata seniman, sehingga beliau selalu saja mempunyai gagasan baru juga menarik dalam menghasilkan berbagai celotehan islami yang segar, unik dan tidak terasa dogmatis.

Suara Kemanusiaan Penyair Iran dan Dunia

http://indonesian.irib.ir/
2011 Oktober 01

Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad dalam pembukaan seminar para penyair Iran dan dunia mengatakan, “Dewasa ini, pesan kemanusiaan para penyair yang mengusik arogansi negara-negara adidaya global adalah sebuah perjuangan besar.” Ahmadinejad menegaskan, bahasa adalah manifestasi akal dan psikis dan spirit. Namun, puncaknya membuncah dalam bahasa yang dikemukakan dengan perasaan dan kecintaan. Bahasa cinta berbeda dengan bahasa para filosof.

Ibnu Sina, Bapak Kedokteran Dunia (1-3 Habis)

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nidia Zuraya
http://www.republika.co.id/

I
Dunia Islam memanggilnya dengan sebutan Ibnu Sina. Namun di kalangan orang-orang Barat, ia dikenal dengan panggilan Avicenna. Ia merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter pada abad ke-10.

Ia juga seorang penulis yang produktif di mana sebagian besar karyanya adalah tentang filasafat dan pengobatan. Bagi banyak orang, dia adalah ‘Bapak Pengobatan Modern’ dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran.

Mbah Dalhar Watucongol

MBAH DALHAR WATUCONGOL

Beliau adalah salah satu Wali Allah daerah Jawa Tengah yang termasyhur pada zamannya, juga salah satu tokoh Tarekat Syadziliyyah yang disegani. Mbah Dalhar adalah salah satu guru utama dari Wali Allah yang “nyentrik,” Kyai Gus Miek (HAMIM DJAZULI), Ploso Kediri.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com