Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2012

Peringatan dan Amarah

Emha Ainun Nadjib
__Harian SURYA/2004

Guru saya di dunia ini banyak. Tak terbatas. Bahkan tak terhingga. Jumlahnya bertambah terus. Soalnya tidak ada “mantan-Guru”. Yang ada adalah “yang sedang menjadi Guru” dan “yang akan menjadi Guru”. Tak ada seseorang atau sesuatupun yang pernah mengajari saya lantas tidak lagi menjadi Guru saya.

Indonesia: dari Paha Hingga Agama

Judul: Puisi dan Bulu Kuduk (perihal sastra dan budaya)
Penulis: Acep Zamzam Noor
Editor/Penyunting: Mathori A Elwa/Faiz Manshur
Pengantar: Jakob Sumardjo
Penerbit: Nuansa Cendekia Bandung, Juli 2011 Harga: Rp 48.000
Peresensi: Arifin Hakim
http://oase.kompas.com/

Buku ini merupakan kumpulan esai-esai sastra, bahasa dan budaya yang ditulis oleh seorang penyair kenamaan dari Tasikmalaya, Acep Zamzam Noor.

Nenek, Oh, Nenek

Ahmad Zaini*
http://sastra-indonesia.com/

Di depan beranda rumah, nenek duduk santai sembari mengelus rambut memutih yang disimpul menjadi sanggul. Sambil memandang suasana sore iamengecapi sirih yang sudah hampir lembut. Ludah yang bercampur dengan sirih, neneksemprotkan ke tanah. Warna merah seperti darah menodai tanah di sekitar tempat duduknya.

Sayap-Sayap Langit ke Tujuh

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Ada pertalian khusus tema Padhang Mbulan 11 Maret 2012 dengan Padhang Mbulan 6 April 2012, yakni lontaran pemikiran Cak Nun mengenai tingkat kedalaman pengetahuan Nabi Muhammad. Hingga pada pertemuan April kemarin Cak Nun getol membahas ulang soal pertanyaan: Apakah Rasul mengetahui jika di planet lain ada makhluk? Sejak kapan Rasul mengetahui segala hal yang sudah dan akan terjadi dalam sejarah? Berapa persen tingkat pengetahan Rasul dibanding tekhnologi mutakhir? Pertanyaan kritis tersebut dilontarkan Cak Nun sebagai banding. Karena selama ini pemahaman yang berkembang dan atau dikembangkan sebatas Rasul berpredikat bodoh, polos, jahil, bergaya dan mengembangkan teori hidup melarat.

Membo-membo Jadi Iblis di Kediri *

: Membaca Buku ‘Sekumpulan Sajak Pesantren’ bertitel “Jadzab”
Nurel Javissyarqi **
http://sastra-indonesia.com/

Dua tahun lalu pertengahan Ramadhan saya ke sini, tepatnya mengikuti kawan-kawan Kutub (para santrinya almarhum Gus Zainal Arifin Thoha); Muhammadun AS, Salman Rusydie Anwar, A. Yusrianto Elga, di antaranya agak lupa siapa saja pengisi pelatihan kepenulisan di Lirboyo, setelah itu ziarah ke makam Gus Zainal. Mungkin sepuluh tahun lampau saya di sini sekadar ngopi, seperti ke pesantren lain menikmati alam damainya. Ini mengingatkan saya masuk Pon-Pes. Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang, dua belas tahun lewat, kala menghadap Mbah Mad (Kiai Ahmad Abdul Haq) disaat beliau masih sugeng. Ditanyalah, ‘Kenapa ke pesantren?’ ‘Ingin merasai hawa pesantren,’ ; jawab saya. Dan tiga minggu lalu, ke sana kembali untuk meresapi ketenangan tersebut.

Makhluk dari Planet Mana Israel Ini?

Emha Ainun Nadjib
http://www.kaltimpost.web.id/

MAKHLUK dari mana Israel ini, “adigang adigung adiguna”, boleh melakukan apa saja, pembunuhan massal, penggusuran besar-besaran, pemberangusan dan pemusnahan atas ummat manusia dan nilai-nilai kemanusiaan, kapan saja dia mau, tanpa sanksi yang memadai dari pihak manapun di muka bumi.

Kang Maksum

A. Mustofa Bisri
Jawa Pos, 15 Jan 2012

Masya Allah! Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun!
Tidak mungkin, tidak mungkin! Kang Maksum? Ah….

BERITA itu cepat beredar. Berita yang benar-benar mengguncang kotaku. Di mana-mana—di pasar, di warung-warung, di perkantoran, di sekolah-sekolah—berita itu mendominasi pembicaraan. Seperti biasa, orang-orang pun asyik menduga-duga dan menganalisis.

JADZAB

Usman Arrumy
http://sastra-indonesia.com/

Jadzab, di dalam istilah tasawuf adalah suatu maqom atau keadaan di luar kesadaran seseorang, atau bahkan, sudah tidak tertaklif secara syariat? kali ini saya hendak mengawalinya dengan asal-usul lafadz JADZAB terlebih dahulu, bahwa di dalam kamus bahasa arab mula dari JADZAB adalah – Jadzaba-Yajdzibu-Jadzban – yang berarti mempunyai makna ”menarik”, sementara obyek atau maf’ulnya adalah majdzub yang berarti mengandung makna tertarik, di dalam istilah sufi, biasanya jadzab di gunakan terhadap situasi bagi seseorang yang sedang mengalami (khoriqul adat) atau jenis yang lain,

Gemblak: Idiosinkrasi Mistik Jawa

Agus Sulton
http://sastra-indonesia.com/

Nusantara merupakan kekayaan terbesar masyarakat cipta budayanya. Yang terbagi ke dalam beberapa suku dengan kekhasan masing-masing pembawa. Kemudian hasil budaya (kedaerahan) itu turun temurun, diwariskan oleh generasi penerusnya atas komitmen kebersamaan mewarisi dan rasa memiliki. Pemaparan Wiasa Hestitama (2011) dalam makalah ”rutinan” Lingkar Studi Warung Sastra (LISWAS) bahwa Manusia adalah pencipta budaya, dan sosial sebagai kekuatan ambisi untuk proses berbudaya.

Surabaya 1962, Kerja sebagai Sumber Estetika

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Bila engkau tanyakan tiga tema paling sering muncul dalam khazanah puisi Indonesia, aku menyebutkan tiga hal: kesunyian, religiusitas, dan cinta. Ketiganya bergerak dalam pertautan tiga wilayah kebahasaan, yaitu ketuhanan, alam raya, dan pesona tubuh manusia. Sejarah puisi Indonesia, tidak kurang tidak lebih, dihidupi oleh ketiga tema tersebut.

Sastra Islam dan Perjuangannya

Aguk Irawan MN
http://nasional.kompas.com/

Pada zaman Jahiliah (pra-Islam), sastra telah menempati posisi tinggi di hati orang Arab. Bahkan, ketika dunia masih meraba-raba dalam keremangan ilmu pengetahuan, kebudayaan Arab sudah bergumul ketat dalam sastra dan tata bahasa. Tingginya penghargaan kaum Arab terhadap para penyair diperlihatkan dengan menggantung puisi-puisi terbaik penyair mereka di dinding Kabah sebagai simbol kebesaran dan kebanggaan suku mereka.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com