Langsung ke konten utama

Gemblak: Idiosinkrasi Mistik Jawa

Agus Sulton
http://sastra-indonesia.com/

Nusantara merupakan kekayaan terbesar masyarakat cipta budayanya. Yang terbagi ke dalam beberapa suku dengan kekhasan masing-masing pembawa. Kemudian hasil budaya (kedaerahan) itu turun temurun, diwariskan oleh generasi penerusnya atas komitmen kebersamaan mewarisi dan rasa memiliki. Pemaparan Wiasa Hestitama (2011) dalam makalah ”rutinan” Lingkar Studi Warung Sastra (LISWAS) bahwa Manusia adalah pencipta budaya, dan sosial sebagai kekuatan ambisi untuk proses berbudaya.
Individualitas berfikir setidaknya mampu membentuk budaya, namun budaya sendiri akan mempengarui manusia terhadapa kepribadian seseorang. Keduanya sebagai akar relasi akomodatif, dalam artian saling menyesuaikan dan dapat berkembang selama manusianya tidak menafikan sejarah pendahulu. Sebab itulah, sejarah sebagai tiang kekuatan bangsanya bahwa bangsa tersebut dikatakan bangsa yang banyak menyimpang tradisi-berbudaya.

Ini menjadi suatu pondasi bahwa hasil budaya daerah tercipta dari pribadi masyarakat namun akar tradisi sejarah sebagai milik masyarakat kolektif yang dibentuk atas dasar pemikiran konstelasi. Dalam artian, dorongan sosial dan lingkungan sama-sama saling membentuk kekuatan tersendiri. Sosial sebagai esensi pemikiran sedangkan lingkungan pendukung sebagai objek pendorong reaksi kreatif itu terbentuk. Karena dasar dari manusia itu sendiri adalah homo sapiens (makluk yang berfikir), homo faber (pencipta alat), homo esperans (berpengharapan), homo ludens (gemar bermain), dan homo negans (peka dan punya pertimbangan).

Dasar dari hakikat manusia tersebut tidak terlepas dari susunan kodrat jasmaninya, terutama daya cipta, dan rasa-karsa. Menyangkut, manusia sendiri adalah makhluk bertuhan. Resep-resep yang ditawarkan filsafat eksistensialis tersebut merupakan suatu diskursif, menjadikan manusia kompeten untuk mencipta, selanjutnya menjadikan ciptaannya terkumpul dari satu kesatuan kolektif. Yang seperti dapat kita lihat sekarang, yaitu khazanah kebudayaan yang beraneka ragam, lahir dan dibesarkan tidak jauh dari adat daerah dan ritual-ritual khusus seperti, tari-tarian, teater rakyat, wacan mancapat, dsb.

Bentuk kebudayaan itu tidak terlepas dari nuansa ceremonia, tidak lebih berupa sesembahan kepada nenek moyang untuk keselamatan sebagai bentuk penghormatan. Entah itu teater rakyat atau seni tradisi kedaerahan lain, semua tidak dapat terpisahkan dari ritual sesaji yang bersifat pujaan. Kendatipun antara cipta budaya daerah dan ritual sesembahan, keduanya berjalan seiring tradisi masyarakat yang mengikutinya berdasar pada kepercayaan dan adat terkait.

Dalam seni gemblak, dikata sebagai teater rakyat itu juga tidak bisa dilepaskan dari ritual sebelum acara dimulai atau semacam umbu rampen (syarat sesaji) yang ditujukan kepada roh leluhurnya agar pada saat acara tidak ada hambatan—yang sifatnya sepihak. Sebab itulah, wajib adanya menyiapkan sesaji baik berupa kemenyan, bunga kenunga, kolak dawet, air beras, dan nasi tumpeng (ayam panggang). Sesaji makanan lebih bersifat slametan, diperuntukkan dari kelompok pemain dan kelompok masyarakat sekitar yang memakan hasil sesaji.

Kelengkapan sesaji tersebut sebagai bentuk perwujudan sesembahan, namun harus diimbangi dengan prasyarat yang diikuti seperti kelengkapan alat-alat pemain saat pentas gemblak berlangsung tanpa kecuali. Hal ini menyangkut serompet, kendang, dan cimplungan. Menurut cerita sesepun turun-temurun, kalau syarat kesemuanya itu tidak terpenuhi maka kejadian-kejadian aneh baik dari pihak pemain atau penonton akan berakibat kericuan acara, bisa jadi kedua pihak secara fisik mengalami musibah permanen sampai akhirnya mengalami kematian. Masyarakat beranggapan, roh moyang tidak mengizinkan saat berlangsungnya acara tersebut, karena ketersediaan yang harus diikuti tidak memenuhi syarat mutlak pertunjukan gemblak.

Keadaan ini yang menjadi berlainan dapat dikata iniosinkrasi, yaitu tidak sewajarnya mengikuti hal pada umumnya. Namun hal mistik semacam itu masyarakat menganggapnya sebagai bentuk penghormatan atau izin roh leluhurnya. Dalam adat budaya Jawa sendiri acara apapun tak dapat terlepas dari hal-hal mistik yang menyertai. Ini sudah menjadi kebiasaan sejak leluhurnya atas bentuk izin kepada roh moyang.

*) Agus Sulton, Tinggal dan berkarya di Ngoro Jombang.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com