Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2012

Sejarah Menjelang Mengarang Kitab Dalailul Khoirot

Waliyulloh Syekh Sulaiman al Jazuli

Segala puji bagi Allah yang menganugerahi hidayah kepada kita berupa iman dan Islam, yang memberikan kenikmatan kepada kita dengan suka bersholawat dan salam kepada baginda Rosul sebaik – baik manusia, beliaulah yang kita mintai syafa’at ( Syafaatul Uzhma ) . Semoga beliau Saw. memberikan syafa’at-nya kepada kita dihari kiamat kelak…Aaaamiiiiiin.

Menimbang Kembali Kasus Syekh Siti Jenar (I – II)

Walid Syaikhun
http://www.republika.co.id/

(I)
Pada abad ke-16 seorang wali Sufi harus menghadapi tuduhan sesat oleh Majelis Hakim kerajaan Islam Demak. Gara-gara tuduhan ini Syekh Siti Jenar alias Syekh Lemah Abang, sang wali, harus menjalani hukuman mati dengan tikaman sebuah keris yang konon milik Sunan Jati Cirebon. Referensi Islam Indonesia telah membukukan Syekh Siti Jenar sebagai tokoh sesat yang membangkang terhadap kepemimpinan Walisanga.

Sebagian Buku Mengenai Gus Dur

Arwan
http://www.kr.co.id/

KETIKA Gus Dur naik menjadi presiden, banyak kita baca buku mengenai Gus Dur. Atau buku-buku yang memuat sejumlah tulisan Gus Dur. Seakan, momentum naiknya Gus Dur ini mesti disambut dengan penerbitan buku. Satu atau dua buku, memang ada yang sama. Tetapi, ada pula yang perlu direnungkan mengenai sosok Gus Dur itu. Di antara berbagai buku mengenai Gus Dur atau yang memuat tulisan Gus Dur, kita bicarakan dua buku ini. Pertama, Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman (disunting Frans M Parera, Penerbit Harian Kompas, Jakarta, 1999, 181 halaman). Kedua, buku yang ditulis Zainal Arifin Thoha, Kenyelenehan Gus Dur (Gama Media, Yogyakarta, Juni 2001, 275 halaman).

Sekilas Guz Zainal

Salman Rusydie Anwar
http://airbeningkehidupan.blogspot.com/

Bagi sebagian masyarakat Jogja, nama Zainal Arifin Thaha barangkali bukanlah sosok yang asing. Beliau adalah pribadi yang dekat dengan siapa saja, baik kalangan mahasiswa, tokoh organisasi, tokoh agama, sastrawan, para penulis dan tentu saja masyarakat pada umumnya. Mungkin karena kedekatannya dengan berbagai elemen itulah pada akhirnya Zainal Arifin Thaha juga dikenal sebagai sosok yang memiliki multiaktivitas seperti halnya akademisi, sastrawan, penulis buku, muballigh dan juga dosen.

Mengenang Gus Zainal Arifin Thoha

Saiful Amin Ghofur
http://www.jurnalismewarga.com/

“SEORANG filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tetapi mati muda, dan tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda,” tulis Shoe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran. Ungkapan Gie ini kiranya tepat untuk mengenangkan Gus Zainal Arifin Thoha yang meninggal di usia yang relatif muda, 35 tahun.

SURAT KEPADA GUS ZAINAL ARIFIN THOHA

Untukmu: yang tersayang, yang terkasih
Dari: santrimu yang tak tahu diri

Muhammad Ali Fakih AR
http://mafasyrus-kerdasuma.blogspot.com/

Gus, malam ini lengang. Tak ada angin yang bersiur dan awan-awan berlayar indah di langit. Seperti malam satu tahun yang lalu, ketika kau mengimami shalat magrib kami dan sekitar jam 10 kau meninggalkan kami. Tidak mudah rupanya untuk tidak mengingat malam itu, 14 Maret 2007, yang sungguh bagi kami sangat membualkan.

Spiritualitas dalam “Karya Hidup” Zainal Arifin Thoha

Jamal Ma’mur Asmani
http://www.nu.or.id/

Rabu, 14 Maret 2007, pukul 22.00 WIB. Seorang sastrawan kondang Yogyakarta kelahiran Kediri, Zainal Arifin Thoha, menghembuskan nafas terakhir. Penulis berbagai buku, puisi, dan novel itu menderita penyakit jantung yang tak tertolong. Kiai muda yang sangat produktif menulis di media masa sejak kuliah itu meninggalkan keluarga tercinta, istri Maya Veri Oktavia, dan empat anak, Vina Rohmatul Ummah, Muhammad Hasan Turki, Ahmad Hafid Mujtaba, dan Syifana Nur Madinah, para santri, mahasiswa, jama’ah pengajian, kawan setia, pembaca setia buku-bukunya, menuju kehadirat Allah SWT.

Burger Telur; Mengenang Gus Zainal Arifin Thoha

Nasruli Chusna
http://begitudeh.blogspot.com/

Tanta siang ini panas. Apa lagi di daerah Syari’ Sa’id, kawasan kampus Tanta University dan pusat perbelanjaan di Tanta, Mesir. Meski aku berada di kedai makanan, keringatku tetap mengucur deras. Penjaga kedai menyapa ramah ketika kubuka kacamata hitamku. Aku membalasnya dengan senyuman. Kuletakkan ransel hitamku, kurebahkan tubuh letihku.

Biografi Lengkap Pangeran Diponegoro

Suryadi *
Kompas, 27 Okt 2008

MENULIS biografi lengkap seorang tokoh besar yang sudah meninggal ratusan tahun lalu mungkin tak semudah menulis biografi (pesanan) seorang penguasa/pengusaha yang masih hidup. The Power of Prophecy (Kekuatan Nujum) menyuguhkan biografi lengkap Pangeran Diponegoro (1785-1855), seorang Muslim yang saleh, tetapi tetap dipengaruhi kosmologi Jawa, yang mengobarkan ”perang suci” melawan Belanda (1825-1830).

Arie Batubara Ungkap Misteri Syekh Siti Jenar

TIM 25-27 MEI 2012
Y Alpriyanti
http://www.suarakarya-online.com/

CERITA tentang keberadaan sosok Syekh Siti Jenar, hingga kini sebenarnya bisa dikatakan masih merupakan sebuah kontroversi. Artinya, pada satu sisi banyak yang meyakini utamanya mereka yang jadi “pengikut” dan ajarannya bahwa tokoh ini memang ada. Di pihak lain, percaya Syekh Siti Jenar hanyalah fiktif.

Analisis Nilai Islami dalam Cerpen

Irma Safitri *
http://www.riaupos.co/

Sastra merupakan karya seni yang mengandung nilai-nilai kehidupan dan nilai-nilai religius sebagai pedoman hidup dalam masyarakat. Atmosuwito (1989: 126) berpendapat, sastra merupakan cermin dari agama pengarangnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra dapat dijadikan manusia sebagai salah satu alat untuk memberi penuntunan dalam kehidupan. Menurut Mangunwijaya (1994: 11), pada mulanya, semua sastra adalah religius. Dari pendapat ini, sastra dan religius akan bertemu pada satu titik karena ada peran kurang lebih sama antara kitab suci dan sastra. Yaitu keduanya memberi perenungan, pencerahan spiritual, kemerdekaan dan pembebasan manusia dari penindasan. Religius dan sastra membawa nikmat dan hikmat, memanusiawikan dan mereligiuskan manusia.

“Ta’dib”, Konsep Ideal Pendidikan Islam

Amin Hasan *
http://www.hidayatullah.com/

AWAL pendidikan Islam bermula dari tempat yang sangat sederhana, yaitu serambi masjid yang disebut al-Suffah. Namun, walaupun hanya dari serambi masjid, tetapi mampu menghasilkan ilmu-ilmu keislaman yang bisa dirasakan sampai dengan sekarang. Tidak hanya itu, dari serambi masjid ini pula mampu mencetak ulama-ulama yang sangat dalam keilmuannya dimana pengaruhnya sangat besar sekali bagi peradaban Islam, bahkan juga mampu mempengaruhi peradaban-peradaban lain.

Merumuskan Visi Baru Pendidikan Islam

Imadi Daimah Ermasuri *
http://www.lampungpost.com/

SEIRING perkembangan zaman dan kompleksnya persoalan, dunia pendidikan agama Islam dituntut membuat strategi ampuh untuk menjawab berbagai tantangan.

Oleh karena itu, menjadi sebuah keniscayaan bagi pemerintah untuk merumuskan kembali visi dan strategi perencanaan bagi masa depan pendidikan Islam secara nasional. Kenyataan ini perlu dicermati dari gambaran umum tentang mutu pendidikan Islam yang belum memenuhi harapan sebagai benteng moral bangsa.

Mengungkap Makna Ta’dib al-Attas bagi Pendidikan

Yudhi Fachrudin
http://www.kompasiana.com/peradaban

Pendidikan menjadi benteng harapan terakhir dalam mengatasi solusi permasalahan-permasalahan bangsa ini. Di sisi lain, begitu kompleknya permasalahan-permasalah yang terjadi pada lingkungan sosial kerap memasuki dunia pendidikan. Ketimpangan sosial, berlakunya budaya kekerasan, sifat-sifat individualis, hedonis matrealis serta perilaku-perilaku penyimpangan lainnya yang terjadi di lingkungan sosial masyarakat turut serta mempengaruhi dunia pendidikan. Pilihan antara terlebih dahulu memperbaiki dunia pendidikan agar hadir menjadi solusi bagi masyarakatnya atau memperbaiki lingkungan sosial agar tidak menjadi “virus” bagi pendidikan.

Pancasila dan Gus Dur

Musa Zainuddin *
http://www.lampungpost.com/

KONTINUITAS sejarah terkait Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara telah menunjukkan kekuatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itulah yang kita refleksikan kembali setiap memperingati Hari Kelahiran Pancasila tanggal 1 Juni.

Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara telah melewati fase pembuahan, fase perumusan, dan fase pengesahan (Yudi Latif: 2011). Satu hal yang tak disinggung Yudi Latif adalah fase pergumulan Pancasila dan kekuasaan, khususnya di masa Orde Baru.

Napas Religi dalam Karya Sastra

Dwi Rejeki
http://www.suarakarya-online.com/

Karya sastra bertemakan religi ternyata selalu dimintai pembaca. Paling tidak bisa dilihat dari hasil survei “Rumah Sastra” sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak khusus dalam bidang pengamatan karya sastra bernafaskan Islam, yang diadakan awal September lalu. Berdasarkan hasil survei dari 100 responden di Jakarta dan sekitarnya inilah Bentara Budaya mengusung agenda acara diskusi “Napas Religi Dalam Karya Sastra”, baru-baru ini.

GAGASAN PRIBUMISASI ISLAM

:MERETAS KETEGANGAN ISLAM DENGAN KEBUDAYAAN LOKAL
Anjar Nugroho
http://pemikiranislam.wordpress.com/

ABSTRAK

Tulisan ini mengkaji dialektika antara agama dan kebudayaan. Agama memberikan warna (spirit) pada kebudayaan, sedangkan kebudayaan memberi kekayaan terhadap agama. Namum terkadang dialektika antara agama dan seni tradisi atau budaya lokal ini berubah menjadi ketegangan. Karena seni tradisi, budaya lokal, atau adat istiadat sering dianggap tidak sejalan dengan agama sebagai ajaran Ilahiyat yang bersifat absolut. Untuk itu perlu adanya gagasan pribumisasi Islam, karena pribumisasi Islam itu menjadikan agama dan budaya tidak saling mengalahkan, melainkan berwujud dalam pola nalar keagamaan yang tidak lagi mengambil bentuknya yang otentik dari agama, serta berusaha mempertemukan jembatan yang selama ini memisahkan antara agama dan budaya.

SEJARAH TIMBULNYA GAGASAN NUR MUHAMMAD SAMPAI MASUKNYA KE NUSANTARA

Nur Fauzan Ahmad, S.S., M.A.
http://staff.undip.ac.id/

Intisari

Gagasan Nur Muhammad banyak mendominasi dalam pemikiran para sufi terbukti dari banyaknya naskah tasawuf yang membicarakannya. Tulisan ini bertujuan mengungkapkan latar belakang timbulnya gagasan Nur Muhammad dan masuknya ke Nusantara. Dari hasil kajian studi pustaka yang dilakukan didapatkan hasil bahwa gagasan ini bermula dari tafsiran filosofis terhadap Al Quran surat An-Nuur:

Sastra Religius dan Kearifan Agamawan

Judul buku : Sastra dan Agama: Tinjauan Kesusastraan Indonesia Modern Bercorak Islam
Penulis : Marwan Saridjo
Penerbit : Yayasan Ngali Aksara bekerjasama penerbit Penamadani, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2006
Tebal buku : xxiv + 314 halaman
Peresensi : N. Mursidi *
Jawa Pos, 25 Feb 07

Sastrawan Santri Menatap Realitas Nusantara

A Khoirul Anam
http://nu.or.id/

Bebeberapa kelompok Islam semakin tidak antusias terhadap khasanah dan realitas Nusantara. Mereka seperti orang asing di negeri sendiri. Entah mulai kapan ini bermula. Padahal para penyebar Islam dikenal sangat dekat-hati dengan negeri ini. Kita bisa saja berkata, semua itu karena mereka semakin jauh dari dunia sastra, sastra pesantren.

MENJADI MUSLIM-INDONESIA Inspirasi dari Pemikiran Gus Dur

Marzuki Wahid *
_Kabar Cirebon, 30 Des 2011

Hari ini, Jum’at (30/12/2011), haul kedua Gus Dur-panggilan legendaris KH Dr. Abdurrahman Wahid. Haul adalah ajaran budaya untuk memperingati, mengenang, dan meneladani kebaikan, serta mendoakan orang yang sudah meninggal dunia. “Aku hanya pulang, bukan pergi,” kata Gus Dur suatu waktu. Benar adanya, semangat, gagasan, dan gerakan Gus Dur tidak pergi, masih terus hadir hingga hari ini. Satu di antaranya adalah gagasan “menjadi muslim-indonesia” yang hendak diungkap dalam tulisan ini.

GERAKAN NEOMODERNISME ISLAM DI INDONESIA (Perspektif Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid)

Hamzah Tualeka Zn

Nabi Muhammad saw pernah menyatakan bahwa urusan duniawi diserahkan sepenuhnya kepada umat Islam, karena mereka dianggap lebih mengetahuinya. Ia pun menyatakan bahwa iman seseorang itu dapat bertambah dan dapat pula berkurang.

Semua orang bersepakat bahwa kehidupan sosial tidaklah statis, tetapi selalu berubah secara dinamis. Tetapi, tidak semua orang mempunyai kesepakatan sama dalam mengartikan perubahan soial, bahkan konsep perubahan sosial sempat diberi makna intuatif dan sebagai suatu mitos belaka.

Menyibak Makna Spiritual Isra’ Mi’raj

Nasaruddin Umar
http://www.republika.co.id/

Peristiwa Isra Mi’raj adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha yang sangat dramatik dan fantastik. Dalam tempo singkat-kurang dari semalam (minal lail)-tetapi Nabi berhasil menembus lapisan-lapisan spiritual yang amat jauh bahkan hingga ke puncak (Sidratil Muntaha).

Al-Quran pada pandangan sastra kontemporer…

Ratnaislamiati
http://www.kompasiana.com/ratnaislamiati

dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah; ” buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang di bikin manusia “, kemudian makanlah dari tiap-tiap macam dari buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah di mudahkan (bagimu ). dari perut lebah itu keluar minuman madu yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Tuhan bagi mereka yang memikirkan. (Qs.An-Nahl 68-69).

Jembatan Budaya itu Bernama Gus Dur

Abdullah Alawi
NU Online, 18 Jan 2012

Di akhir tahun 1990, majalah Editor edisi No 15/THN IV/22 Desember, menobatkan KH Abdurahman Wahid sebagai penggerak Islam Indonesia. Kulit muka majalah itu memuat potret kiai yang biasa disapa Gus Dur itu, dengan kepala tulisan “Tokoh 1990, Tahun Bergeraknya Islam Indonesia.”

Proses penobatan dijelaskan pada rubrik Dari Editor. Menurut sidang redaksi yang berjumlah 18 orang itu memutuskan Ketua Umum PBNU waktu itu sebagai Tokoh Editor. Gus Dur mendapat nilai terbanyak (136) dan menyisihkan 6 finalis lain.

Gus Dur dan Bangkitnya Anak Muda NU

Judul Buku: Pembaruan tanpa Membongkar Tradisi: Wacana Keagamaan di Kalangan Generasi Muda NU Masa Kepemimpinan Gus Dur
Penulis : Djohan Effendi
Kata Pengantar : Prof. Dr. Olaf Schumann
Penerbit : Buku Kompas, Jakarta
Cetakan : I, Maret 2010
Tebal : xxvi + 330 halaman
Peresensi : Muslim *
Lampung Post, 5 Sep 2010

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com