Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2013

Rendra membacakan sajaknya di Pesantren Tebuireng tahun 1977

Rendra membacakan sajaknya di Pesantren Tebuireng tahun 1977.  Dokumen Majalah Tebuireng  (Jombang, Jawa Timur)

Ibn ‘Arabi (1165-1240)

M.Harir Muzakki *
http://sastra-indonesia.com

Ibn ‘Arabi (1165-1240), tanpa diragukan, merupakan seorang pemikir yang sangat penting dan berpengaruh dalam sejarah pemikiran Islam pada masa berikutnya. Filsafat mistiknya, yang kemudian disebut wahdat al-wujud, mendominasi seluruh wilayah budaya dunia Muslim masa selanjutnya. Pengaruhnya sangat luas hingga tidak mungkin memahami sejarah pemikiran Islam setelah abad 13 tanpa memahamai pemikiran Ibn ‘Arabi secara baik. Khususnya di dunia Sunni, dimana teologi rasional (kalam) menyatu sedikit demi sedikit dan akhirnya filsafat “Hellenisme” (falsafa) sirna.

Pengajaran Bahasa dan Sastra di Pesantren

M. Mustafied *
nu.or.id 17/06/2012

Di pesantren, bahasa Arab merupakan salah satu materi pokok pembelajaran. Hal ini dilatarbelakangi paling tidak oleh tiga hal. Pertama, teks-teks kunci yang dipelajari di pesantren, dalam semua fan ilmunya, rerata masih menggunakan literatur berbahasa Arab.

Asketisisme dalam Sastra Profetik

Munawir Aziz *
nu.or.id 17/11/2012

Dalam ruang kehidupan yang mementaskan berbagai warna dan eksperimentasi, sastra hadir dengan misi profetik. Asketisisme merupakan dimensi penting yang membawa pengaruh dalam dunia kesastraan.

Di berbagai karya sastra, asketisisme sangat memengaruhi proses pengamatan, perenungan, hingga penciptaan. Sebagian karya sastra, entah itu mewujud dalam wajah cerpen, novel maupun puisi, dipengaruhi oleh ruh asketisme dalam nafas hidupnya. Asketisisme menjadi semacam lokomotif yang mampu menarik gerbong-gerbong inspirasi sastrawan, entah itu dalam panggung internasional, maupun yang berproses dalam ruang lokal.

Naskah Kuno, Pesantren, dan NU

Mahrus eL-Mawa *
nu.or.id 11/06/2012

Adakah hubungan naskah kuno, pesantren, dan Nahdlatul Ulama? Jika jawabannya ada, muncullah pertanyaan berikutnya: Bagaimana hubungan ketiganya itu? Apakah karena ketiganya itu sama-sama “terpinggirkan”? Atau termasuk dalam kategori “tradisional”, sehingga kurang mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat?

Islam, Seni, dan Kehidupan Beragama

Abdurrahman Wahid *
nu.or.id 5/08/2012

1
Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari nilai-nilai keagamaan, betapapun kenyataan ini tidak diakui oleh sementara kalangan. Masalah-masalah pribadi tentang pengaturan hubungan dengan sesama manusia, masalah penyesuaian antara cita dan kenyataan yang dihadapi dalam kehidupan, serta hubungan manusia dengan kekuatan-kekuatan di luar dirinya, kesemuanya itu menghasilkan dimensi-dimensi dalam kehidupan manusia.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com