Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Lafal Baku Bahasa Indonesia

Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 16 Jan 2010

Belakangan ini kalau kebetulan terdengar, saya perhatikan lafal percakapan dalam sinetron-sinetron yang disiarkan oleh berbagai saluran televisi, lagamnya berbagai-bagai, tetapi semuanya cenderung mengikuti lagam (lentong) bahasa berbagai daerah. Ada yang medok Jawanya, ada yang keras bentakannya seperti orang Batak, ada yang seperti orang Sunda, dan lain-lain. Jelas bahwa lagam demikian itu disengaja oleh sutradara yang agaknya hendak menggambarkan bahwa lagam bahasa Indonesia itu dalam kenyataannya diucapkan sesuai dengan lidah suku bangsa yang berbagai-bagai itu.

Dan Fenomena Presiden Penyair Daerah sebagai Dagelan Populer?

Nurel Javissyarqi
Tentu kita tahu sebutan presiden penyair Indonesia tersemat dari-padanya Sutardji Calzoum Bachri. Kredonya yang fenomenal itu meluas mempengaruhi banyak penyair serta kritikus (… dengan kredonya yang terkenal itu, Sutardji memberikan suatu aksentuasi baru kepada daya cipta atau kreativitas, Ignas Kleden endosemen di buku Isyarat, lalu lihat buku Raja Mantra Presiden Penyair, 2007). Sehingga di puncak ketenarannya, SCB tidak segan-segan menyelewengkan ayat-ayat suci; Qs. Asy-Syu’ara, 224-227 (baca buku saya MTJK SCB, 2011). Sampailah, kita mendengar adanya presiden penyair Surabaya, presiden penyair Lampung, presiden penyair Cirebon dan sebangsanya. Dari sini terpancang jelas pengaruh Sutardji di belantika kepenyairan Tanah Air, atau dengan label presiden penyair memudahkan seseorang berbuat semaunya tanpa halangan berarti pun dari para kritikus; mereka tidak lagi obyektif mengkaji suatu karya, sebab tertutupi titel yang sudah terlanjur mentereng?

Sulitnya Bahasa Indonesia

Agus R. Sarjono *
Majalah Tempo, 24 Mei 2010

Setiap orang asing yang pernah tinggal di Indonesia dengan cepat akan dapat bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Di Bonn, Jerman, para mahasiswa semester awal di jurusan bahasa Indonesia selalu bikin cemburu mahasiswa jurusan bahasa Cina, Arab, dan Jepang. Sebab, saat mereka masih terbata, para mahasiswa jurusan bahasa Indonesia sudah mulai pandai bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Namun, begitu mereka lulus dan makin memperdalam bahasa Indonesia, tahulah mereka betapa peliknya bahasa ini.

Pancasila, Pascasarjana, Coca-Cola

Sapardi Djoko Damono *
Majalah Tempo, 5 Mei 2014

Proses teknologi kata pun terjadi ketika kita menangkap bunyi dan menguncinya di atas kertas dalam wujud gambar. Aksara adalah gambar yang dirancang untuk menyimpan bunyi agar ada yang tersisa-katakanlah residu-ketika ucapan tidak terdengar lagi. Yang terjadi selanjutnya adalah memanfaatkan rentetan aksara untuk menyimpan pengetahuan, mimpi, harapan, kenangan, dan apa saja agar tidak menguap begitu saja, agar bisa diperiksa ulang oleh yang merentetkan aksara itu sendiri ataupun orang lain yang membacanya.

Ustad dan Ulama

Samsudin Adlawi *
Majalah Tempo, 3 Mar 2013

“Jika keberatan dengan proses penahanan, kami mempersilakan kuasa hukum Ustad Luthfi mengajukan praperadilan.” Kata ustad dalam pernyataan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad sebagaimana dikutip Jawa Pos (7 Februari 2013) itu menarik untuk ditelisik. Kata ustad adalah serapan dari bahasa Arab yang dalam kalimat tersebut digunakan kurang tepat. Bukan lantaran Luthfi Hasan Ishaaq (mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera) sedang terjerat kasus dugaan korupsi impor daging sapi, melainkan kurang akurat dilihat dengan kacamata bahasa.

Bahasa Indonesia dan Puisi

Berthold Damshauser *
Majalah Tempo, 18 Nov 2012.

Sudah saatnya saya melapor lagi tentang sebuah diskusi pada jam mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn. Bayangkan! Di antara mahasiswa saya ada yang tertarik pada puisi Indonesia! Bahkan ada yang mencoba menerjemahkannya ke bahasa Jerman. Namun upaya itu mengakibatkan mereka frustrasi.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com