Langsung ke konten utama

Inilah yang Terjadi Ketika Para Penulis Asia Tenggara ini Bertemu di Jakarta

Reportase Yusri Fajar *
Surya, 11 Agu 2017

BERSYUKUR bisa bertemu para penulis dari Jepang dalam acara residensi sebagai rangkaian kegiatan Asean Literary Festival di Jakarta yang diinisiasi oleh novelis Okky Madasari dan jurnalis senior Abdul Khalik.

Program residensi penulis dimulai  26 Juli hingga 2 Agustus di Kampung Muara Tanjung Barat Jakarta Selatan. Sebelas penulis dari Asia Tenggara dan satu penulis dari Jepang membawa misi berliterasi untuk turut serta mencerahkan peradaban. Dari Indonesia diwakili Andaru Intan (Banyuwangi), Ni Komang Ariani (Bali), Ira Lathief (Jakarta), dan saya.

Para penulis ini pada dasarnya disatukan dalam kesadaran mencipta karya untuk menggambarkan fenomena perkembangan bangsa, masyarakat multikultural, isu-isu krusial lainnya, terutama di negara masing-masing.

Dari berbagai gambaran proses kreatif dan kecenderungan berkarya yang diperbincangkan, masing-masing penulis bisa mendapat gambaran sejauh mana sastra dan bentuk tulisan lainnya yang dipublikasikan mendapatkan tanggapan  pembaca.

Mayoritas peserta mengakui, masih ada masalah dengan budaya membaca di negara peserta. Yang menarik, masih ada ‘kontrol’ atas kebebasan berekspresi di beberapa negara Asia Tenggara.

Misalnya, penulis dari Brunei, Malaysia, Vietnam, dan Myanmar menyampaikan bila negara mereka masih berusaha mengontrol karya-karya para penulis.

Selama acara, peserta mengikuti beberapa program, seperti bertemu para siswa di sekolah, bertukar pikiran sesama penulis melalui diskusi, mengunjungi komunitas peduli lingkungan di Jakarta, menghadiri festival budaya Betawi, melakukan pementasan, dan beberapa kegiatan lainnya.

Melalui kegiatan ini, terutama program memotivasi siswa di sekolah, penulis negara tetangga bisa mengetahui bagaimana pandangan dan kreativitas siswa Indonesia dalam sastra.

Ketika berkunjung ke salah satu SMA di Jakarta, mereka terkesan dengan kompetensi berliterasi siswa.
***

Ketika para siswa diberi kesempatan menulis, mereka ternyata mampu menulis karya sastra dalam bahasa Inggris dan Indonesia secara spontan, menarik, dan dalam waktu singkat. Menarik lagi, mereka mampu mengeksplorasi fenomena dalam lokalitas yang memiliki ciri khas.

Secara pribadi saya berpendapat, kemampuan ini penting dalam rangka mengenalkan karya sastra Indonesia ke dunia internasional.

Banyak isu-isu menarik yang bisa disampaikan kepada masyarakat dunia, terutama terkait dengan pentingnya toleransi, mencintai lingkungan, saling menjaga perdamaian, dan mengembangkan jatidiri tanpa harus saling menyulut permusuhan dan kebencian.

Meski, penggunaan bahasa lokal dan bahasa nasional sendiri juga tetap penting sebagai medium berkomunikasi sesama anak bangsa Indonesia yang kaya ragam budaya namun tetap berkesadaran akan persatuan.

Program residensi penulis Jepang dan Asia Tenggara memiliki peran dalam membangun literasi yang kreatif dan berbasis pemahaman serta penghargaan pada perbedaan antar bangsa dan budaya.

Para penulis dengan pengalaman mereka berjumpa dengan para penulis lain, dan melihat fenomena-fenomena baru melalui pergaulan dan pengamatan pasti akan mendapatkan inspirasi.

Setiap penulis bisa bersuara dan menyampaikan kritik dan saran-sarannya melalui pandangan dan tulisan-tulisannya. Tanpa tulisan-tulisan, seperti karya sastra, yang bergizi dan mencerahkan, sebuah bangsa terancam mengalami kejumudan, kemunduran dan kehilangan daya kritisnya.

*) YUSRI FAJAR, Sastrawan/Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang.
http://surabaya.tribunnews.com/2017/08/11/inilah-yang-terjadi-ketika-para-penulis-asia-tenggara-ini-bertemu-di-jakarta?page=2

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com